Marc Skinner Tinggalkan Manchester United Women: Alasannya

Marc Skinner resmi meninggalkan kursi pelatih kepala Manchester United Women setelah lima tahun menukangi tim. Kepergian pelatih berusia 43 tahun itu terjadi atas kesepakatan bersama, dengan Skinner disebut sebagai pihak yang memulai pembicaraan. Salah satu pemicu utamanya adalah rasa frustrasinya terhadap strategi transfer klub yang tidak sejalan dengan ambisinya.

Manchester United kini memilih fokus membina pemain muda ketimbang terlibat perang penawaran dengan klub-klub besar Liga Super Wanita (WSL). Skinner, yang sebelumnya menukangi Birmingham dan Orlando, merasa sudah tiba waktunya untuk meninggalkan klub. Keputusan ini diumumkan menjelang musim 2025-26, tepat ketika tim bersiap menghadapi laga pembuka melawan London City Lionesses pada 4 September.

Marc Skinner Tinggalkan Manchester United Women Setelah Lima Musim

Manchester United mengonfirmasi kepergian Marc Skinner dari Manchester United Women melalui pernyataan resmi klub. Eks pelatih Birmingham dan Orlando itu telah menukangi tim selama lima musim, sejak didatangkan pada 2021. Klub dan pelatih sepakat untuk berpisah setelah melalui diskusi panjang, dengan Skinner dinilai berperan besar dalam memulai pembicaraan tersebut.

Keputusan ini diumumkan sebelum kampanye 2025-26 bergulir, tepatnya ketika United bersiap menghadapi London City Lionesses pada laga pembuka 4 September. Alasan yang mendasari perpisahan ini terbilang cukup jelas: Skinner menginginkan investasi besar, sementara klub memilih membangun skuad dengan cara yang lebih berkelanjutan. Akhirnya, kedua belah pihak menilai berpisah adalah jalan terbaik sebelum musim baru dimulai.

Karier Skinner di Manchester United Women

Selama lima musim di kursi pelatih, Skinner mencatatkan sejumlah pencapaian bersejarah bagi Manchester United Women. Ia membawa tim ke final Piala FA Wanita tiga kali beruntun pada 2023, 2024, dan 2025. Dari tiga final tersebut, United sukses meraih satu gelar pada 2024 setelah mengalahkan Tottenham 4-0 di Wembley, sekaligus menjadi trofi besar pertama klub di sektor wanita.

Tak hanya itu, tim asuhannya juga menembus perempat final Liga Champions Wanita dan final Piala Liga pada musim 2025-26. Namun, performa United di liga justru fluktuatif. Mereka finis keempat pada musim pertama Skinner, lalu naik ke posisi kedua pada 2022-23 sebagai catatan terbaik di WSL, sebelum kembali merosot ke peringkat kelima, ketiga, dan keempat pada tiga musim terakhir.

Frustrasi Soal Transfer Jadi Pemicu Kepergian

Skinner dikenal vokal dalam meminta manajemen Manchester United meningkatkan belanja pemain di bursa transfer. Ia berulang kali menegaskan bahwa investasi diperlukan agar tim mampu bersaing dengan klub-klub WSL yang lebih boros. Sayangnya, perubahan arah kebijakan klub pada musim panas ini justru bertolak belakang dengan harapannya.

Manchester United disebut ingin membangun tim secara berkelanjutan dengan mengandalkan pemain binaan sendiri. Klub merasa pendekatan ini sejalan dengan identitas mereka selama ini, yaitu mengembangkan talenta muda, dan investasi tengah digenjot untuk akademi. Sumber lain menyebut Skinner semakin frustrasi melihat klub-klub WSL lain mengeluarkan belanja lebih besar daripada United.

Penjualan Malard dan Ketatnya Persaingan WSL

Salah satu momen yang memicu kekhawatiran adalah penjualan penyerang asal Prancis, Melvine Malard, ke Chelsea pada musim panas ini. Transfer tersebut menghasilkan dana sekitar 850 ribu pound sterling sekaligus menjadi rekor penerimaan transfer tertinggi dalam sejarah Manchester United Women. Kabar itu pun menimbulkan pertanyaan besar mengenai ambisi klub pada musim mendatang.

Di sisi lain, London City Lionesses yang menjadi lawan pertama United pada musim ini justru berani belanja sangat besar. Klub tersebut mendatangkan bintang asal Spanyol, Alexia Putellas dan Mapi León, serta penyerang Timnas Prancis, Kadidiatou Diani. Langkah ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di WSL, tempat klub-klub kaya semakin agresif membangun skuad.

Meski demikian, sumber di lingkungan Manchester United menilai pengeluaran sebesar itu tidak berkelanjutan dalam sepak bola wanita. Pandangan inilah yang menjadi dasar klub bertahan pada strategi pengembangan pemain muda. Diskusi seputar strategi transfer ini pun akhirnya berujung pada perpisahan antara klub dan Skinner sebelum musim baru dimulai.

Langkah Berikutnya: Siapa Pelatih Pengganti?

Manchester United tidak ingin berlama-lama tanpa pelatih kepala untuk tim wanitanya. Sejak kabar kepergian Skinner mulai menguat, klub telah menyusun daftar kandidat pengganti. Pelatih anyar diyakini akan segera diumumkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Klub juga memberikan penghormatan terakhir untuk Skinner melalui pernyataan resminya. “Marc meninggalkan klub dengan kontribusi signifikan bagi kemajuan Manchester United Women,” ujar pihak klub dalam pernyataannya. “Klub menyampaikan terima kasih yang tulus atas profesionalisme, komitmen, dan dedikasinya selama di United, serta mendoakan yang terbaik untuk masa depannya.”

Kepergian Marc Skinner dari Manchester United Women menandai akhir sebuah era yang penuh warna. Ia meninggalkan satu