Sunderland Kalahkan AZ, Enzo Le Fée Jadi Pahlawan

Sunderland kalahkan AZ 1-0 pada laga pembuka kiprah mereka di kompetisi Eropa musim ini, dan gol tunggal itu lahir dari titik putih lewat eksekusi Enzo Le Fée pada babak kedua. Penalti tersebut menjadi penentu kemenangan sekaligus memupus rentetan peluang yang gagal dimaksimalkan tuan rumah sepanjang pertandingan.

Kemenangan ini penting bukan hanya karena tiga poin, tetapi karena menjadi penanda dimulainya kembali perjalanan Sunderland di panggung Eropa setelah sekian lama absen. Kapten tim, Granit Xhaka, bahkan menyebut mimpi melaju hingga final Liga Europa musim semi mendatang bukanlah hal yang mustahil bagi skuad asuhan Régis Le Bris. Namun, ia juga mengingatkan bahwa untuk sampai ke laga puncak di Frankfurt itu, timnya harus jauh lebih efisien dalam menyelesaikan peluang.

Sunderland Kalahkan AZ Berkat Ketajaman Le Fée dari Titik Putih

Laga di Wearside berjalan dramatis sejak awal. Sunderland mendominasi penguasaan bola dan menciptakan sederet kans, tetapi penyelesaian akhir mereka kerap menemui jalan buntu. Le Fée, yang tampil sebagai pemain terbaik di laga itu, menjadi motor serangan sekaligus sosok yang tak kenal lelah merebut bola kembali untuk timnya.

Gol akhirnya datang setelah Weslley Patati menjatuhkan Le Fée di dalam kotak penalti saat pemain itu bersiap melepaskan tembakan. Le Fée yang sebelumnya pernah gagal mengeksekusi penalti melawan Arsenal dan diselamatkan David Raya, tampak sedikit gugup, tetapi ia berhasil menipu Jari De Busser dan menempatkan bola ke sudut bawah gawang dengan eksekusi yang nyaris sempurna.

Le Bris mengakui momen itu krusial. Menurutnya, mencetak gol sangat penting bagi tim, dan Le Fée menunjukkan keberanian serta ketangguhan mental saat mengambil tanggung jawab tersebut. Sebelumnya, Sunderland sempat menyia-nyiakan peluang dari Nordi Mukiele dan Brian Brobbey yang masuk sebagai pengganti, sementara voli Patati hampir saja menyamakan kedudukan untuk AZ di akhir laga.

Dominan tapi Frustrasi: Kronologi Babak Pertama

Sejak peluit awal, Sunderland mengambil inisiatif menyerang. Kiper AZ, De Busser, harus bekerja keras menepis tembakan half-volley Le Fée dan mendorong bola hasil sepakan Kevin Danso melewati mistar gawang. Di sisi lain, AZ nyaris membuka keunggulan lebih dulu andaikan Robin Roefs tidak mengulurkan kakinya untuk menahan sepakan rendah Ro-Zangelo Daal setelah diberi umpan oleh Kees Smit.

Tim tamu berkali-kali menunjukkan bahwa mereka bukan lawan yang mudah dibaca. Sunderland sempat hampir celaka dari serangan balik, dan hanya intersepsi bagus dari Trai Hume yang mampu menghentikan laju Ayoub Oufkir. Peluang Sunderland juga terus berdatangan, termasuk tembakan Le Fée yang menerpa tiang gawang dan sepakan Hume yang melewati sisi gawang.

Babak pertama berakhir dengan dominasi Sunderland yang terasa sia-sia. Le Bris menyebut penyebabnya adalah pola pikir yang terlalu rumit alias overthinking dari para pemainnya. Di sisi lain, Oufkir dinilai beruntung hanya menerima kartu kuning setelah meluncur dengan ceroboh ke arah Le Fée, dan ia digantikan Patati saat jeda.

Sosok Enzo Le Fée dan Ikatan Lama dengan Régis Le Bris

Peran Le Fée di laga ini tidak sekadar soal gol. Ia adalah playmaker serang berkualitas sekaligus petarung tanpa bola yang berulang kali merebut penguasaan bola bagi Sunderland. Kombinasi peran itu membuatnya layak disebut sebagai pemain paling menonjol di pertandingan tersebut.

Menariknya, hubungan Le Fée dan Le Bris bukan hal baru. Pelatih Sunderland itu pertama kali menangani Le Fée ketika pemain tersebut masih berusia 12 tahun di akademi Lorient. Ketika diminta menyetujui bahwa Le Fée memiliki kualitas kelas Liga Champions, senyum Le Bris langsung mengembang.

Le Bris tidak ragu memuji anak asuhnya. Ia menyebut Le Fée sebagai pemain hebat yang kualitasnya ia percayai sepenuhnya, seraya menegaskan rasa bangganya terhadap para pemain dan pendukung. Ia juga menekankan bahwa AZ adalah tim yang sangat baik, sehingga kemenangan ini diraih berkat hati dan kebersamaan seluruh skuad.

Dampak Kemenangan bagi Ambisi Sunderland di Eropa

Kemenangan atas AZ memberi Sunderland modal moral yang besar di awal perjalanan mereka di Eropa. Laga ini menjadi pengingat bahwa mental bertanding di kompetisi kontinental berbeda dari kompetisi domestik, terlebih ketika efisiensi penyelesaian akhir menjadi penentu hasil.

Pernyataan Xhaka soal peluang mencapai final di Frankfurt menunjukkan bahwa target internal tim ini tidak main-main. Meski demikian, rentetan peluang yang gagal dikonversi menjadi gol di laga ini adalah catatan yang harus segera dibenahi jika Sunderland ingin bersaing lebih jauh. Sebab, di level Eropa, tim sekualitas AZ bisa dengan mudah menghukum kelalaian seperti itu.

Dari kacamata AZ, kekalahan tipis ini menjadi pahit karena mereka tampil cukup berani. Anak asuh Leeroy Echteld datang dengan modal tak terkalahkan, menang lima kali dan sekali imbang dari laga-laga awal mereka di Eredivisie. Performa Kees Smit, yang berulang kali merepotkan lini belakang Sunderland, menjadi bukti bahwa tim tamu punya kualitas yang patut diperhitungkan di fase berikutnya.

Konteks Lebih Luas: Kembalinya Sunderland ke Panggung Eropa

Malam itu terasa istimewa bagi pendukung Sunderland karena menjadi momen kembalinya klub ke kompetisi Eropa. Sebelum kick-off, stadion disuguhi pertunjukan pembuka yang membangkitkan semangat, lengkap dengan tifo raksasa berbentuk kapal layar yang mengambang di atas pesan “New shores to conquer” atau “Pantai baru untuk ditaklukkan”.

Hadir di kursi VIP salah satu sosok bersejarah klub, Jimmy Montgomery. Kini berusia 82 tahun, ia adalah pahlawan kemenangan Sunderland di final Piala FA 1973 melawan Leeds sekaligus kiper tim pada petualangan Eropa terakhir klub di Piala Winners sekitar 53 tahun silam. Kehadirannya menegaskan betapa panjangnya jarak antara masa kejayaan dulu dan momen kembalinya klub ke pentas kontinental saat ini.

Bahkan Trai Hume, salah satu pemain yang tampil di laga ini, punya cerita tersendiri soal perjalanan klub. Ketika ia bergabung pada Januari 2022, Sunderland masih berkompetisi di League One. Kini ia berdiri di lapangan yang sama dengan misi membawa klub melaju di Eropa, sebuah lompatan yang menggambarkan betapa cepatnya perubahan yang terjadi di klub tersebut.

Catatan Penutup

Kemenangan Sunderland atas AZ berdiri di atas satu momen penalti yang dieksekusi dengan tenang oleh Enzo Le Fée. Meski tim tuan rumah menciptakan jauh lebih banyak peluang, ketidakmampuan memaksimalkan kans-kans tersebut membuat laga tetap menegangkan hingga peluit akhir. Le Fée sendiri tampil sebagai figur sentral, baik sebagai kreator serangan maupun pekerja keras tanpa bola.

Dengan hasil ini, kapal besar Sunderland resmi mengarungi perairan Eropa, persis seperti pesan pada tifo di tribun. Namun, jika ambisi melaju hingga final di Frankfurt ingin terwujud, efisiensi di depan gawang harus menjadi prioritas utama pada laga-laga berikutnya.