Perjalanan Panjang Sang Bintang Muda
Piala Dunia 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Jude Bellingham. Gelandang Real Madrid ini kembali menunjukkan mengapa ia menjadi pemain kunci timnas Inggris. Dari performa gemilang di lapangan hingga sikap dewasa di luar lapangan, Bellingham berhasil membungkam semua keraguan yang sempat menghinggapi namanya.
Tak lama setelah turnamen dimulai, Bellingham langsung menjadi sorotan. Gol-gol kritis dan assist cemerlangnya mengantarkan Inggris ke semifinal Piala Dunia 2026. Banyak pihak menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik turnamen, bahkan di usia barunya yang baru 23 tahun.

Dari Debut Gemilang hingga Panggung Dunia
Awal Mula di Birmingham City
Bellingham memulai karier profesionalnya bersama klub kampung halaman, Birmingham City, pada Agustus 2019. Saat itu usianya baru 16 tahun 38 hari, memecahkan rekor klub yang bertahan puluhan tahun. Bakatnya langsung terlihat: atletis, kaki panjang, lincah, dan rajin bekerja keras.
Dalam laporan pemantauan dari klub Premier League, keunggulan teknis Bellingham langsung menonjol. Ia mampu membawa bola keluar dari tekanan dan mencari celah di antara lini lawan. Dalam waktu setahun, ia pindah ke Borussia Dortmund dengan nilai transfer £20,7 juta – sebuah langkah besar yang mengejutkan banyak pihak.
Karier di Jerman dan Debut Internasional
Bellingham langsung mencetak gol pada debutnya untuk Dortmund. Penampilannya yang konsisten membuat Pelatih Inggris saat itu, Gareth Southgate, segera memanggilnya ke skuad senior. Debut internasionalnya terjadi pada November 2020, saat masih berusia 17 tahun.
Meski hanya tampil sebagai pemain pengganti di Euro 2020, Bellingham terus menunjukkan perkembangan. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia sudah menjadi starter dan mencetak gol pembuka melawan Iran. Sejak saat itu, ia tidak pernah absen dari skuad utama Inggris.
Era Real Madrid dan Kontroversi yang Mewarnai
Galactico dengan Kepribadian Kuat
Setelah bergabung dengan Real Madrid pada 2023, Bellingham menjelma menjadi bintang sejati. Musim pertamanya di Spanyol luar biasa: 19 gol di La Liga dan trofi Liga Champions. Namun, kenaikan pamor ini juga membawa sorotan pada sikapnya. Selebrasi ‘who else’ dan kebiasaannya menarik perhatian media sempat menimbulkan kesan ‘sindrom karakter utama’.
Di Euro 2024, meski tampil impresif dengan gol overhead kick melawan Slowakia, Bellingham kerap menarik diri dari rekan setim setelah kekalahan. Hal ini memicu perbincangan di internal tim mengenai sikapnya.
Keraguan Sebelum Piala Dunia 2026
Memasuki musim 2025-2026, performa Bellingham di Real Madrid sedikit menurun. Cedera bahu dan operasi membuatnya absen di awal musim. Pelatih baru Inggris, Thomas Tuchel, bahkan secara terbuka mempertanyakan tempatnya di skuad inti. Komentar Tuchel tentang ‘perilaku menjijikkan’ yang dilihat ibunya sendiri semakin memanaskan situasi.
Pada Oktober 2025, Bellingham tidak dipanggil ke skuad Inggris karena dianggap belum fit. Beredar kabar bahwa ia sendiri yang meminta untuk absen. Narasi publik bergeser: apakah Bellingham masih layak menjadi starter di Piala Dunia 2026?
Kembalinya Sang Maestro ke Puncak Performa
Membungkam Kritik di Lapangan
Jawaban Bellingham datang di lapangan. Dalam laga uji coba melawan Selandia Baru dan Kosta Rika, ia mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Di fase grup Piala Dunia 2026, ia mencetak gol solo brilian melawan Kroasia dan gol penentu saat Inggris kesulitan melawan Panama. Penampilannya konsisten meski sering diganti di babak akhir.
Puncaknya terjadi di babak 32 besar melawan DR Kongo, di mana ia bermain penuh dan sangat berpengaruh. Dua golnya saat mengalahkan Meksiko secara ikonik – disebut sebagai salah satu kemenangan tandang terbaik Inggris – serta dua gol lagi ke gawang Norwegia di perempat final Miami mengukuhkan kebangkitannya. Dari enam pertandingan, ia meraih empat penghargaan pemain terbaik.
Kedewasaan Baru di Usia Muda
Yang paling mencolok adalah perubahan sikap Bellingham. Dalam wawancara wajib usai meraih penghargaan, ia tampil rendah hati, memuji kerja tim, bahkan memberikan penghargaan pribadinya kepada pemain lawan. Ia kini lebih suka memberikan assist daripada mencetak gol – sebuah pernyataan yang kontras dengan selebrasi ‘who else’ di masa lalu.
Perubahan ini juga terlihat di lapangan. Etos kerjanya luar biasa, seperti terbukti dari tekel penyelamat gol melawan Meksiko. Ia juga piawai beradaptasi, bergerak antara peran nomor 10 dan 8 sesuai kebutuhan tim. Tak heran ia kini menjadi bagian dari kelompok kepemimpinan Inggris bersama Harry Kane.
Kesimpulan: Tak Tergantikan di Piala Dunia 2026
Apapun yang terjadi antara Tuchel dan Bellingham, hasilnya jelas: Bellingham telah matang di panggung terbesar. Ia kembali menjadi pemain yang tak tergantikan di timnas Inggris. Dengan semifinal melawan Swiss atau juara bertahan Argentina di depan mata, masih ada peluang untuk menambah catatan gemilangnya.
Di usia 23 tahun, Jude Bellingham telah melewati naik-turun yang jarang dialami pemain seusianya. Kini, ia berdiri sebagai salah satu pilar utama Inggris dalam misi merebut gelar Piala Dunia pertama sejak 1966. Piala Dunia 2026 menjadi saksi kebangkitan sang maestro.