Kekalahan Pahit di Piala Dunia 2026: Awal Baru bagi Tuchel
Thomas Tuchel seharusnya bisa tersenyum lega setelah membawa Timnas Inggris ke semifinal Piala Dunia 2026. Namun, kekalahan dramatis 2-1 dari Argentina di menit-menit akhir meninggalkan luka yang dalam. Alih-alih merayakan prestasi, publik justru mempertanyakan keputusan taktik sang pelatih kepala. Momen ini menjadi titik balik: bagaimana Tuchel bisa memperbaiki skuad dan mentalitas tim sebelum Euro 2028 yang akan digelar di kandang sendiri?
Padahal, FA sudah percaya penuh dengan menjanjikan perpanjangan kontrak. Tuchel dianggap memiliki kecerdasan taktis yang lebih baik dibanding pendahulunya, Gareth Southgate. Namun kekalahan dari Argentina membuktikan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan. Kini, dengan Nations League menghadapi Spanyol, Ceko, dan Kroasia, Tuchel harus segera menemukan solusi.
Ketergantungan Berlebih pada Harry Kane
Harry Kane memang tampil luar biasa di Bundesliga musim lalu dengan 61 gol di semua kompetisi. Namun, usia sang kapten yang akan genap 33 tahun pada Juli 2027 menjadi kekhawatiran tersendiri. Kane sendiri enggan bicara soal Piala Dunia 2030, tapi kemungkinan besar ia masih menjadi andalan di Euro 2028. Masalahnya, Tuchel tidak memiliki alternatif lini depan yang mumpuni.

Dalam turnamen ini, Tuchel hanya memainkan Ollie Watkins dan Ivan Toney sebagai pelapis, masing-masing hanya mendapat waktu bermain sangat minim. Watkins, pencetak gol terbanyak Premier League musim lalu dengan 16 gol, hanya bermenit-menit melawan Panama. Padahal, Inggris membutuhkan opsi rotasi agar Kane tidak kelelahan menjelang usia 35 tahun.
Pemain-pemain seperti Dominic Solanke, Dominic Calvert-Lewin, atau Danny Welbeck sudah berusia 28-35 tahun. Sementara itu, striker muda seperti Liam Delap (23 tahun) baru menunjukkan tajinya di Ipswich Town. Tuchel harus segera mencari pelapis Kane atau setidaknya mengembangkan Plan B di posisi ujung tombak. Jika tidak, ketergantungan pada satu pemain bisa menjadi bumerang di turnamen besar.
Masalah Lini Tengah: Kepercayaan pada Kobbie Mainoo
Satu hal yang mencolok adalah minimnya kepercayaan Tuchel terhadap Kobbie Mainoo. Gelandang Manchester United berusia 21 tahun ini menjadi satu-satunya pemain outfield dalam skuad 26 pemain yang tidak mendapatkan satu menit pun bermain di Piala Dunia 2026. Saat lini tengah perlu perubahan, Tuchel lebih memilih memasang bek sayap seperti Reece James atau Nico O’Reilly di posisi gelandang bertahan.
Pertanyaan besar muncul: jika Mainoo tidak dianggap layak menjadi pelapis, mengapa ia dibawa ke turnamen? Ini menunjukkan adanya masalah kepercayaan terhadap pemain muda. Padahal, Inggris memiliki banyak talenta seperti Adam Wharton (22 tahun) dari Crystal Palace dan Alex Scott (22 tahun) dari Bournemouth yang bisa menjadi solusi jangka panjang. Tuchel harus menemukan gelandang yang ia percaya untuk memberikan rotasi di dasar lini tengah, agar tidak lagi menggunakan bek sebagai “plester” darurat.
Kontroversi Taktik dan Mentalitas Tim
Momen paling kritis adalah ketika Inggris unggul lebih dulu atas Argentina, lalu memilih bertahan dengan sangat pasif. Statistik mencatat Inggris hanya memiliki 12% penguasaan bola setelah unggul, dan selama 18 menit 37 detik mereka hanya berhasil menyelesaikan tiga operan. Bek Marc Guehi mengakui, “Setelah mencetak gol, mentalitas kami berubah menjadi bertahan.” Ini adalah masalah mentalitas klasik yang juga terjadi di era Southgate.
Tuchel sempat marah saat ditanya soal mentalitas setelah kemenangan atas Norwegia. Namun, faktanya kekalahan dari Argentina lebih terasa seperti menyerah daripada kegagalan gemilang. Kritik juga dialamatkan pada keputusan tidak memanggil Trent Alexander-Arnold meski Tino Livramento cedera. Semua ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Tuchel untuk membangun kembali kepercayaan dan identitas permainan agresif.
Perpanjangan Kontrak: Langkah Tepat atau Terburu-buru?
FA mengumumkan perpanjangan kontrak Tuchel beberapa jam sebelum undian Nations League pada Februari lalu. Logikanya sederhana: mengamankan pelatih elite untuk Euro 2028 dan menghindari spekulasi selama Piala Dunia. Namun, pencapaian Tuchel saat itu baru sebatas lolos ke Piala Dunia dengan rekor sempurna di grup yang relatif lemah (Andorra, Albania, Latvia, Serbia). Satu-satunya ujian melawan tim top 20 FIFA justru berakhir kekalahan dari Senegal di laga persahabatan.
Kekalahan dari Argentina menunjukkan bahwa Tuchel masih rentan terhadap taktik defensif yang justru dianggap sebagai kelemahan Southgate. Ia pun harus menerima kritik pedas dari fans. Namun, FA tetap percaya pada kemampuannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana Tuchel bisa meramu skuad yang tidak hanya bergantung pada Kane, memiliki rotasi lini tengah yang solid, serta mentalitas untuk terus menekan lawan—bukan justru mundur begitu unggul.
Kesimpulan: Euro 2028 Sebagai Ajang Pembuktian
Euro 2028 yang akan digelar di Inggris menjadi peluang emas sekaligus tekanan besar bagi Thomas Tuchel. Ia harus segera menyelesaikan berbagai masalah strategi yang terlihat di Piala Dunia 2026. Mulai dari mencari pengganti Harry Kane jangka pendek, memberikan kesempatan kepada Kobbie Mainoo atau gelandang muda lain, hingga memperbaiki mentalitas bertahan yang berlebihan. Jika tidak, bukan tidak mungkin Tuchel akan kehilangan dukungan publik sebelum turnamen dimulai. Namun, dengan kecerdasan taktis yang dimilikinya, ia masih memiliki waktu dua tahun untuk membangun tim yang lebih kuat dan seimbang.