Peringatan 125 tahun Brighton & Hove Albion berlangsung jauh lebih meriah dari yang mungkin dibayangkan siapa pun. Menjamu Arsenal di Stadion Amex, The Seagulls menutup laga dengan kemenangan telak 3-0 atas juara bertahan Premier League, dan melakukannya di hadapan 31.944 penonton — angka kehadiran tertinggi yang pernah tercatat di stadion mereka.
Kemenangan itu bukan sekadar soal tiga poin. Arsenal datang sebagai juara bertahan, sehingga laga sekelas ini berpotensi merusak suasana pesta ulang tahun klub. Sebaliknya, Brighton tampil mengenakan kostum komemoratif khusus dan menyuguhkan permainan yang layak untuk momen bersejarah tersebut, sampai-sampai sorak-sorai di tribun sudah terdengar jauh sebelum wasit meniup peluit panjang.

Peringatan 125 Tahun Brighton: Tiga Gol Tanpa Balasan di Depan Rekor Penonton
Pascal Gross membuka keunggulan Brighton lebih dulu, sebelum Charalampos Kostoulas menancapkan gol kedua tepat di penghujung babak pertama. Setelah jeda, sundulan Chema Andres melengkapi kemenangan menjadi 3-0 dan memastikan Arsenal pulang tanpa membawa apa pun. Sepanjang laga, tuan rumah sebenarnya punya cukup peluang untuk menambah pundi-pundi gol, tetapi tiga gol sudah lebih dari cukup untuk menutup perayaan hari jadi klub.
Pelatih Fabian Hurzeler mengaku laga itu terasa istimewa karena alasan yang lebih dalam daripada sekadar nama besar lawannya. “Ini laga yang spesial, bukan hanya karena kami bermain melawan tim yang mungkin terbaik di Inggris, tetapi karena performa kami,” ujarnya kepada BBC Match of the Day. Ia menilai anak asuhnya tampil intens sejak awal, memenangi duel-duel perorangan, rapi saat menguasai bola, dan mampu menciptakan peluang.
Hurzeler juga menegaskan bahwa momen seperti ini layak dinikmati oleh para pemainnya. “Saya sangat bangga pada tim saya, semoga mereka menikmatinya hari ini karena momen-momen seperti ini penting untuk dinikmati,” tambahnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa bagi Brighton, kemenangan atas sang juara bertahan punya makna emosional yang jauh melampaui klasemen.
Dari Goldstone ke Withdean: Jejak Tahun-Tahun Kelam
Brighton dibentuk pada 1901 dan menghabiskan hampir dua dekade sebagai klub Southern League sebelum akhirnya diterima masuk ke Football League melalui pemungutan suara. Mereka hanya menjalani tujuh musim di Divisi Dua sebelum promosi ke kasta tertinggi untuk pertama kalinya pada 1979. Sejak itu, perjalanan klub ini jauh dari mulus.
Selama bertahun-tahun, nama Brighton di luar Sussex terutama dikenal karena komentar legendaris “And Smith must score…” yang disampaikan mendiang Peter Jones di radio BBC pada momen krusial final Piala FA 1983. Saat itu Gordon Smith berada dalam posisi bebas dengan peluang emas untuk mempersembahkan trofi besar pertama bagi Brighton, tetapi tembakannya berhasil diblok kiper Manchester United, Gary Bailey. United kemudian menang di laga ulangan.
Pukulan jauh lebih berat datang pada 1995. Ketua klub saat itu, Bill Archer, menjual Goldstone Ground — rumah Brighton sejak 1902 — karena utang yang membengkak dan tidak ada jalan keluar yang jelas untuk melunasinya. Para pendukung tidak pernah dilibatkan dalam keputusan itu, dan tidak ada stadion pengganti yang disiapkan. Brighton baru benar-benar meninggalkan Goldstone pada 1997, setelah musim terakhir mereka di sana dipastikan oleh perusahaan properti pemilik stadion, tepat setelah pertandingan penutup musim 1995-96 yang harus dihentikan karena ribuan suporter yang marah menyerbu lapangan sebagai bentuk protes. Kedua mistar gawang pun patah dalam kekacauan itu.
Setelah dua musim bermain 70 mil dari kota mereka di Gillingham, ditambah gagalnya rencana pembangunan stadion baru di kawasan Toad’s Hole Valley, Brighton akhirnya kembali ke kotanya pada 1999 dan mulai berkandang di Withdean Stadium. Stadion itu lebih dikenal sebagai lintasan atletik tempat latihan Steve Ovett, peraih medali emas Olimpiade nomor lari jarak menengah.
Malam di Amsterdam dan Perjuangan Menuju Stadion Baru
Kembali ke malam 9 November 2023. Manajer Brighton saat itu, Roberto De Zerbi, berdiri di depan para pemainnya di Amsterdam Arena menjelang laga Europa League melawan Ajax. “Malam ini ada 3.000 suporter Brighton di stadion ini,” katanya. “Tetapi jumlahnya lebih dari dua kali lipat di kota ini, mereka yang ikut melakukan perjalanan. Ingat itu saat kalian masuk ke lapangan.”
Seorang pejabat senior Brighton yang sudah hampir tiga dekade bekerja untuk klub berada di ruang ganti hari itu. Sebagai suporter pertama dan segalanya, ia mengaku merinding mendengar pesan tersebut. “Itu membuat bulu kuduk saya berdiri,” ujarnya. “Mereka adalah bangsawan sepak bola Eropa. Mengingat dari mana kami berasal, bisa berada di lingkungan seperti itu rasanya seperti mimpi yang nyata.” Brighton memenangi laga itu 2-0, puncak dari kampanye Eropa pertama dalam sejarah klub.
Namun bagi Paul Samrah, momen paling berkesan sebagai suporter Brighton justru datang dari hal yang sama sekali berbeda, dan itulah yang membuat klub ini nyaris unik di antara klub-klub Inggris. Pada Agustus 2007, setelah bertahun-tahun berkampanye, ia akhirnya mendengar kabar bahwa izin pembangunan stadion benar-benar diperoleh dan pihak yang menolak tidak lagi melanjutkan upaya mereka untuk menghentikannya. “Kami memenangi pertarungan kami,” kenangnya. Perbandingannya terasa mencolok: saat pindah ke Withdean, kapasitasnya hanya 6.000, sementara lebih dari 7.000 suporter Brighton hadir di Amsterdam pada malam itu.
Samrah juga menggambarkan betapa terpuruknya klub setelah final Piala FA 1983. Pemain dijual, tidak ada investasi, Goldstone perlahan rusak, dan jumlah penonton menyusut. Komunikasi antara manajemen dan suporter nyaris tidak ada, direktur datang dan pergi. “Tidak ada kesinambungan, tidak ada kepemimpinan, tidak ada arah. Kami benar-benar tanpa kemudi,” ujarnya. Ada beberapa nama penting yang lantas menyelamatkan klub: mantan direktur eksekutif FA, David Davies, serta Wakil Perdana Menteri John Prescott yang membatalkan penolakan atas permohonan izin stadion Brighton di Falmer, dan mantan ketua Dick Knight yang menstabilkan klub setelah pada 1997 mereka hanya berjarak 27 menit dari degradasi keluar dari Football League. Tanpa ketiganya, sangat mungkin Brighton sudah tidak ada.
Tony Bloom dan Wajah Baru Brighton
Brighton masa kini hadir dalam wujud yang sangat berbeda, dan itu sebagian besar berkat visi serta investasi Tony Bloom. Pria berusia 56 tahun itu lahir di Brighton dan merupakan suporter seumur hidup; keterikatannya dengan klub berakar dari sang kakek, Harry, mantan wakil ketua, serta pamannya, Ray, yang pernah menjadi direktur. Bloom meniti karier sebagai pengusaha, mengumpulkan kekayaan di bidang keuangan dan perjudian — sebagian besar berkat pemanfaatan data — sebelum menjadi ketua klub pada 2009.
Sejak itu, ia merancang kebangkitan Brighton dari League One dan kepindahan ke American Express Stadium. Pada musim lalu, rata-rata kehadiran penonton Brighton melewati angka 31.000. Model rekrutmen klub, dengan membeli pemain lalu menjualnya kembali dengan keuntungan besar, kini menjadi bahan iri banyak klub lain di Inggris.
Direktur olahraga Mike Cave menilai perubahan Brighton dalam 15 tahun terakhir nyaris tak masuk akal. “Siapa pun yang datang ke Brighton hari ini dibandingkan bahkan 15 tahun lalu tidak akan menyangka ini klub sepak bola yang sama,” katanya kepada BBC Sport. Menurutnya, klub telah menempuh perjalanan luar biasa, dan mereka yang tidak berada di sana 15 tahun lalu justru punya tanggung jawab untuk memastikan masa depan lebih baik daripada masa lalu. Ia meyakini masih banyak hal besar yang menanti.
Dalam program pertandingan melawan Arsenal, Bloom juga menuangkan refleksinya soal ulang tahun ke-125 klub. Ia menyebut Brighton telah menjadi bagian dari kehidupan kota dan wilayah Sussex yang lebih luas sejak 1901, menghubungkan generasi demi generasi keluarga dan komunitas. Persahabatan seumur hidup tumbuh di tribun, di bangku penonton, dan di perjalanan tandang. “Klub ini ada dalam darah saya,” katanya. “Beberapa kenangan paling awal dan paling berharga saya terbungkus dalam pemandangan dan suara Goldstone.”
Konteks yang Lebih Luas dan Apa yang Menanti Berikutnya
Perbandingan antara masa lalu dan masa kini terasa paling jelas di lapangan. Brighton baru saja mengalahkan Manchester United di Old Trafford untuk kelima kalinya dalam enam kunjungan, dan kini menempati posisi kelima setelah empat pertandingan pembuka musim ke-10 mereka secara beruntun di Premier League. Catatan seperti ini belum pernah ada dalam sejarah panjang klub.
Di kancah Eropa, Brighton memulai kampanye benua kedua mereka di kota Tromso, Norwegia, bulan lalu. Kehadiran di Conference League membuka peluang meraih trofi pertama yang selama ini sulit diraih, sekaligus menegaskan bahwa masuknya Brighton ke kompetisi Eropa bukan lagi kejutan sesaat. Stadion megah mereka kini hanya berjarak perjalanan kereta pendek dari pusat kota, dilengkapi area korporat baru dan suasana keluarga yang inklusif.
Bloom dalam pesan programnya juga menyinggung tahun-tahun sulit yang dialami klub. Ia mengingatkan bahwa hilangnya Goldstone, perjalanan panjang ke Gillingham, dan tantangan era Withdean adalah bagian dari perjalanan yang sama. Menurutnya, yang membuat klub ini bertahan adalah tekad para suporternya: penggalangan dana dengan ember, aksi protes, dan penolakan untuk menerima bahwa Albion harus lenyap. “Ulang tahun ini milik para suporter itu sama besarnya dengan siapa pun. Sederhananya, tanpa mereka, kami tidak akan ada di sini hari ini,” tulisnya.
Kemenangan 3-0 atas Arsenal pun menjadi simbol yang pas atas seluruh perjalanan tersebut. Brighton pernah berada di ambang kehilangan identitas, stadion, bahkan keberadaan klubnya, dan kini mereka mengalahkan juara bertahan Inggris di hadapan rekor penonton sendiri. Perayaan ulang tahun ke-125 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat seberapa jauh jarak yang sudah ditempuh The Seagulls.
Yang tersisa kini adalah pertanyaan tentang langkah berikutnya: trofi pertama, konsistensi di papan atas, dan kemampuan mempertahankan model rekrutmen yang membuat mereka disegani. Dengan fondasi yang dibangun selama bertahun-tahun, Brighton tampaknya tidak akan berhenti di titik ini.