Brighton menorehkan start yang nyaris sempurna di Premier League. Setelah lima pertandingan, mereka bertengger di peringkat ketiga, mencetak 16 gol—terbanyak di antara seluruh tim—dan mencatatkan selisih gol terbaik di liga dengan +11. Puncaknya, mereka meremukkan juara bertahan Arsenal dengan skor 3-0 tepat sebelum jeda internasional.
Yang membuat capaian itu terasa istimewa adalah konteks di baliknya. Brighton melewati musim panas dengan kehilangan sejumlah pemain terbaiknya, berjibaku melawan daftar cedera yang terus bertambah, dan justru mengandalkan pemain berusia 35 tahun yang mereka tebus hanya £1,7 juta pada Januari lalu sebagai sosok paling bersinar. Pertanyaan besarnya sekarang: apakah peluang Brighton lolos ke Liga Champions benar-benar nyata, atau hanya sensasi sementara yang akan menguap saat jadwal mengetat?
Rekor di Lapangan: 16 Gol, Lima Clean Sheet, dan Arsenal yang Dibungkam
Angka-angka Brighton musim ini sulit dibantah. Selain memimpin daftar pencetak gol, mereka juga menjadi yang terbaik dalam kategori peluang besar yang diciptakan, rata-rata penguasaan bola, jumlah clean sheet, expected goals, maupun tembakan tepat sasaran per pertandingan. Sembilan pemain berbeda sudah mencetak gol di Premier League, sebuah tanda bahwa ancaman mereka tidak bergantung pada satu nama saja.
Konsistensi itu juga terlihat lintas kompetisi. Dari delapan laga di semua ajang, Brighton mencatatkan lima clean sheet, memastikan tempat di fase grup Conference League, dan menyingkirkan Manchester United dari League Cup. Kombinasi hasil di liga dan kompetisi domestik lain menunjukkan bahwa performa mereka bukan kebetulan satu-dua pertandingan.
Kemenangan atas Arsenal menjadi bukti paling telak. Skuad yang diturunkan Hürzeler malam itu bukanlah susunan yang ia bayangkan saat menyusun rencana di pramusim, karena ia harus tampil tanpa pemain sayap dan tanpa Danny Welbeck. Meski demikian, Brighton tetap mampu tampil dominan dan memaksa tim yang sepanjang musim baru kebobolan sekali itu bermain terburu-buru dan melakukan banyak kesalahan.
Eksodus Pemain dan Badai Cedera yang Melanda Amex
Musim ini sejatinya berpotensi menjadi musim transisi bagi Brighton. Setelah finis di posisi kedelapan Premier League musim lalu dan lolos ke Conference League, klub melepas atau meminjamkan 20 pemain dalam satu jendela transfer. Beberapa kepergiannya berlabel besar: Carlos Baleba ke Manchester United senilai £70 juta, Jan Paul van Hecke ke Tottenham senilai £52 juta, dan Danny Welbeck—top scorer mereka musim lalu dengan 13 gol liga—ke Chelsea seharga £5 juta.
Belum selesai urusan transfer, masalah cedera datang menyusul. Dua pemain sayap utama, Kaoru Mitoma dan Yankuba Minteh, harus absen. Nasib sial berlanjut ketika penyerang Jack Hinshelwood dan Georginio Rutter menyusul mereka ke ruang perawatan. Alhasil, Brighton kerap tampil tanpa pemain sayap sama sekali, kondisi yang memaksa Hürzeler merombak bentuk tim jauh dari skenario awal yang ia siapkan.
Kehilangan sebanyak itu biasanya berujung pada penurunan performa, terutama bagi tim yang belum mapan di papan atas. Namun Brighton justru melaju kencang, menembus papan atas Premier League, dan tetap kompetitif di kompetisi Eropa maupun domestik. Inilah yang membuat start mereka musim ini terasa berbeda dari sekadar momentum sesaat.
Pascal Gross, Perekat di Tengah Skuad yang Berubah Total
Dari kekosongan yang ditinggalkan para pemain senior, muncul satu nama yang kembali ke klub dengan cara nyaris tak terdengar: Pascal Gross. Ia pulang dari Borussia Dortmund pada Januari dengan harga hanya £1,7 juta, sebuah transaksi yang awalnya lebih terdengar seperti upaya bernostalgia ketimbang langkah yang akan menentukan arah musim. Kenyataannya, tidak ada pemain Premier League lain yang terlibat dalam lebih banyak gol musim ini selain Gross, yang telah mencetak tiga gol dan menyumbang tiga assist.
Perannya jauh melampaui catatan gol dan assist. Dalam skuad yang kehilangan banyak sumber kreativitas, Gross menjadi perekat permainan. Ia bisa turun dalam mendampingi lini belakang untuk membantu Brighton membangun serangan dari bawah, mengapung mencari ruang untuk menciptakan peluang, atau masuk ke kotak penalti sebagai pelari terlambat. Dengan Chema Andrés mengerjakan tugas bertahan di belakangnya, Gross leluasa menjelajah, mengatur serangan, dan memimpin pressing dari area yang lebih tinggi.
Angka-angkanya menegaskan hal itu. Ia menciptakan lebih banyak peluang daripada pemain mana pun di liga musim ini dengan 15 peluang, dan—yang mungkin paling mengesankan untuk pemain berusia 35 tahun—ia mencatatkan jarak tempuh terbesar kedua di liga dengan 59,7 km. “Anda benar-benar bisa mempercayainya dan ia membuat rekan-rekan di sekitarnya menjadi lebih baik,” ujar Hürzeler setelah kemenangan atas Arsenal.
Kepercayaan itu semakin penting karena hampir seluruh generasi lama Brighton telah pergi. Welbeck, Joël Veltman, Solly March, dan Adam Webster hengkang, sementara James Milner memutuskan pensiun. Yang tersisa sebagai veteran hanya Lewis Dunk, Jason Steele, dan Gross. Ketika ditanya bagaimana timnya yang baru bisa menyatu begitu cepat, Hürzeler menyebut ketiganya sebagai “pemimpin sosial” yang membantu proses integrasi pemain anyar berjalan cepat. Dengan 290 penampilan dalam dua periode bersama empat manajer berbeda, Gross adalah salah satu dari sedikit figur yang bisa dijadikan rujukan, baik oleh pemain maupun oleh manajernya yang masih muda.
Pemain Pelapis yang Langsung Nyetel
Akan tetapi, kebangkitan Brighton tidak hanya soal Gross. Sesuai cara kerja klub, para pemain yang sebelumnya menunggu di bangku cadangan masuk ke tim utama tanpa terlihat canggung. Maxim De Cuyper, yang awalnya direkrut sebagai bek kiri, mengisi posisi sayap kiri yang ditinggalkan Mitoma. Pemain berusia 25 tahun itu sudah mengumpulkan tiga gol dan tiga assist di semua kompetisi, dengan daya jelajah dan umpan silang yang menawarkan ancaman berbeda dari gaya dribel Mitoma.
Lebih ke depan, Charalampos Kostoulas yang masih 19 tahun telah mencatatkan enam keterlibatan gol, dua kali lipat dari capaiannya musim lalu. Ferdi Kadioglu digeser ke posisi bek kanan, sementara Olivier Boscagli sempat mengisi bek kiri. Nama-nama lain seperti Malick Yalcouyé, Yasin Ayari, Hinshelwood, dan remaja Luka Vuskovic—rekrutan rekor klub senilai £46 juta dari Tottenham—juga memainkan peran penting.
Fleksibilitas itu menjelaskan mengapa Brighton mampu bertahan meski komposisi pemain berubah drastis dari pekan ke pekan. Hürzeler tidak memaksa pemainnya masuk ke satu cetakan posisi kaku, melainkan menyesuaikan peran dengan profil yang tersedia. Hasilnya, kedalaman skuad berubah dari kekhawatiran menjadi salah satu kekuatan utama mereka.
Intensitas Tanpa Bola dan DNA Permainan Hürzeler
Penanda paling jujur dari start cepat Brighton bukanlah gol atau posisi di klasemen, melainkan apa yang mereka lakukan ketika tidak menguasai bola. Di tengah perombakan besar, tuntutan Hürzeler akan intensitas tidak berubah sama sekali. Tidak ada tim di liga yang rata-rata membiarkan lawan melakukan lebih sedikit umpan per tindakan defensif selain Brighton dengan 7,4. Tak ada pula tim yang mencatatkan lebih banyak perebutan bola di area tinggi daripada 56 kali milik mereka musim ini.
Kerja tanpa bola itu paling kentara saat menghadapi Arsenal, yang tidak bisa memainkan permainan terkontrol seperti biasanya. Brighton mencatatkan sembilan perebutan bola di sepertiga akhir lapangan, jumlah terbanyak yang dicatat satu tim Premier League melawan Arsenal sejak Liverpool melakukan hal serupa pada Desember 2023. Tekanan itu memaksa tim yang biasanya tenang menjadi tergesa-gesa dan melakukan kesalahan sendiri.
Bart Verbruggen menyebut intensitas sebagai inti dari apa yang dibangun Hürzeler. Menurutnya, ide sang manajer terlihat jelas dalam cara tim memenangkan bola kedua, cara mereka menempel ketat lawan, cara memenangkan duel perorangan, hingga betapa sulitnya menghadapi Brighton ketika intensitas itu dibawa ke lapangan. Ia menyebutnya sebagai DNA tim, dan menyebutnya berasal langsung dari sang manajer.
Rintangan Menuju Liga Champions
Meski demikian, masih terlalu dini untuk membuka sampanye. Rangkaian laga berat sudah menanti: bermain tandang ke Liverpool dan Manchester City bulan ini, menjamu Brentford yang belum terkalahkan, ditambah kelelahan dan risiko cedera yang menyertai kompetisi Eropa. Daftar cedera Brighton dipastikan akan diuji lebih keras lagi seiring padatnya jadwal.
Faktor usia Gross juga menjadi catatan tersendiri. Meminta pemain berusia 35 tahun mempertahankan level kontribusi seperti sekarang sepanjang satu musim penuh bukan perkara ringan, terutama ketika ia juga harus menempuh jarak terjauh kedua di liga. Brighton praktis tidak punya pengganti sepadan untuk peran yang ia mainkan.
Ketika ditanya setelah laga melawan Arsenal apakah Brighton terlibat dalam perebutan gelar, Gross menjawab singkat: tidak. Jawaban itu realistis. Lima pertandingan memang jauh dari cukup untuk menjadikan mereka kandidat juara Premier League pertama. Namun untuk finis di empat besar dan lolos ke Liga Champions, jarak itu terlihat jauh lebih mungkin dijangkau ketimbang yang dibayangkan banyak orang di awal musim.
Pada musim panas lalu, Brighton tampak seperti tim yang sedang memasuki fase transisi. Kenyataannya, mereka kini melesat di papan atas Premier League. Bagi klub yang kehilangan top scorer, kedua pemain sayap utama karena cedera, dan sebagian besar kelompok kepemimpinan seniornya dalam satu jendela transfer, itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Jawaban atas pertanyaan awal pun mulai mengerucut: peluang Brighton lolos ke Liga Champions bukan sekadar wacana. Modal permainan, kedalaman skuad, dan intensitas sudah terbukti. Yang tersisa adalah apakah mereka sanggup menjaga semuanya tetap utuh ketika jadwal berat, kelelahan, dan cedera mulai menagih. Jika Gross dan rekan-rekannya mampu melewati ujian itu, peringkat ketiga bukan lagi kejutan—melainkan titik awal dari sesuatu yang lebih besar.
