Tinjauan Independen soal Kerusuhan Old Firm: Semua Pihak Kena Sorot
Empat bulan setelah laga perempat final Piala Skotlandia antara Rangers dan Celtic di Ibrox pada Maret lalu, laporan independen mengenai kerusuhan suporter akhirnya dirilis. Dokumen setebal 37 halaman ini langsung menjadi sorotan tajam. Isinya tidak main-main: semua pihak mendapat kritik keras—Rangers, Celtic, Federasi Sepak Bola Skotlandia (SFA), Liga Profesional Sepak Bola Skotlandia (SPFL), kepolisian, hingga kelompok ultras dari kedua kubu.
Baik Rangers maupun Celtic kini menghadapi dakwaan disipliner. Laporan tersebut memperingatkan bahwa kerusuhan Old Firm kali ini “hanya berjarak sangat tipis dari menjadi konfrontasi kekerasan massal yang mengancam jiwa.” Penulis utama, Mark Blackbourne, seorang konsultan acara olahraga yang juga berpengalaman sebagai delegasi dan inspektur stadion UEFA, memberikan penilaian pedas terhadap hampir semua aspek yang terjadi pada hari itu dan hari-hari sebelumnya.

Peringatan Keras: Sanksi Saat Ini Tidak Mempan
Kesimpulan utama Blackbourne adalah sudah waktunya otoritas sepak bola berhenti bermain-main dengan sanksi marjinal terhadap perilaku buruk. Ia secara terang-terangan menyebut denda dari badan pengatur tidak lagi efektif. “Sepak bola Skotlandia sedang menghadapi tren peningkatan perilaku tidak terpuji yang tercatat oleh kelompok suporter dan individu,” tulisnya.
Blackbourne mencatat volume dan variasi insiden sepanjang musim 2024-25 dan 2025-26—mulai dari kembang api, lemparan benda, invasi lapangan, perilaku antisosial, hingga intimidasi terhadap pemain dan ofisial. Menurutnya, ini bukan fluktuasi statistik biasa, melainkan sebuah tren nyata. Kerangka disipliner yang ada saat ini terbukti gagal membalikkan tren tersebut. “Sanksi terlalu ringan, terlalu tertunda, dan tidak konsisten dalam penerapannya,” tegasnya.
Usulan Sanksi Baru: Pembatasan Jumlah Penonton Langsung
Blackbourne menyarankan agar sanksi untuk insiden serius tidak lagi dimulai dengan denda atau hukuman percobaan, melainkan langsung dengan pembatasan jumlah penonton. Tanpa peringatan, tanpa teguran ringan. Kedua klub Glasgow itu dipastikan akan menolak usulan ini, seperti yang selalu mereka lakukan setiap kali wacana strict liability (tanggung jawab penuh klub) muncul ke permukaan.
Kritik Terhadap Manajemen Keamanan dan Kelompok Ultras
Laporan ini merupakan kecaman telak terhadap cara kedua klub dikelola dan bagaimana kelompok ultras mereka berperilaku. Blackbourne merinci kejadian di hari itu: setelah kemenangan Celtic lewat adu penalti, ratusan suporter tamu (lebih dari 8.000 orang) melakukan invasi lapangan yang disebutnya “sama sekali tidak bisa dimaafkan.” Sebagai respons, suporter Rangers langsung melakukan kontra-invasi yang “sangat bermusuhan,” banyak di antaranya memakai penutup wajah dan membawa tiang serta sarung tangan bertulang.
“Sungguh keajaiban kecil tidak ada yang mengalami cedera serius,” tulis laporan itu. Polisi butuh waktu 4 menit 28 detik untuk menguasai situasi—“suatu periode di mana kekerasan yang mengancam jiwa sangat mungkin terjadi.” Selain itu, laporan juga menyoroti risiko berdesakan di tribun Broomloan Road saat suporter Celtic tanpa tiket menerobos keamanan, ketiadaan rencana polisi untuk suporter di luar stadion, serta pengakuan sejumlah polisi yang kini “ketakutan” bertugas di laga sebesar ini.
Insiden-Insiden Kunci dalam Laporan
- Seorang steward di salah satu pintu masuk Ibrox menerima suap untuk mengizinkan suporter masuk saat pertandingan berlangsung. Ia kemudian ditangkap.
- Seorang karyawan Celtic dipukul di wajah oleh suporter Rangers bertopeng.
- Ada laporan pemain Rangers yang menerima pelecehan rasial.
- Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun di tribun Celtic terkena lemparan koin di wajah.
- Bus suporter Celtic diserang dan seorang penggemar ditemukan tidak sadarkan diri di jalan.
- Maskot Rangers, Broxi Bear, dikritik karena memprovokasi suporter Celtic.
Penilaian risiko sebelum pertandingan menyimpulkan bahwa invasi lapangan “tidak mungkin” terjadi—salah satu dari sekian kegagalan operasional yang diulas tuntas laporan ini. “Sejumlah narasumber menggunakan kata ‘kecerobohan’ (complacency),” tulis laporan tersebut.
Ultra Digambarkan seperti Geng Kriminal Terorganisir
Kelompok ultras menjadi sorotan serius dalam laporan ini. Kritik juga dialamatkan pada ketidakmampuan kedua klub mengendalikan kelompok ultras mereka, yang digambarkan memiliki nuansa seperti geng kriminal terorganisir. “Klub-klub menunjukkan keengganan untuk menghadapi dinamika ini, sebagian karena nilai atmosfer yang diberikan kelompok ultras, dan sebagian karena takut akan konsekuensinya,” tambah laporan.
Kelompok-kelompok ini memiliki hierarki internal, koordinasi terencana, kesadaran keamanan operasional, dan penggunaan intimidasi untuk mendapatkan ‘posisi terbaik.’ Implikasinya bagi otoritas sepak bola dan Kepolisian Skotlandia sangat signifikan: ini bukan sekadar kelompok suporter gaduh yang spontan, melainkan entitas terorganisir yang memerlukan respons multi-agensi berbasis intelijen.
Apakah Otoritas Punya Nyali untuk Bertindak?
Laporan ini juga menyentuh dilema mendasar: apakah ada niat dalam sepak bola Skotlandia untuk melakukan perubahan sebesar yang dituntut investigasi? Apakah para otoritas memiliki keteguhan untuk mendorong reformasi—atau setidaknya sebagian darinya—yang mungkin akan ditolak keras oleh klub-klub berpengaruh?
“Di kalangan narasumber, ada pandangan yang kuat dan konsisten bahwa SFA dan SPFL memiliki kekuasaan disipliner untuk bertindak lebih keras dari yang selama ini mereka lakukan, tetapi mereka memilih untuk tidak menggunakannya,” demikian bunyi laporan. “Buku peraturan yang ada—yang ditandatangani setiap klub—memungkinkan sanksi finansial, pengurangan poin, hingga pengusiran… Pertanyaannya bukanlah apakah alatnya tersedia. Melainkan apakah ada kemauan untuk menggunakannya.”
Jika laporan ini tidak membawa perubahan menyeluruh, maka kerusuhan Old Firm di Ibrox Maret lalu serta pemandangan di Celtic Park pada hari terakhir musim—belum lagi banyak insiden di musim-musim sebelumnya—dipastikan akan terus berulang. Ketika laporan menyebut betapa dekatnya situasi dengan kekerasan mengancam jiwa, publik bertanya-tanya apakah para pengambil keputusan benar-benar mendengarkan. Apa yang dilakukan otoritas sepak bola selanjutnya akan menjadi penentu. Semua mata tertuju pada mereka.