Timnas wanita Inggris membawa keunggulan dua gol ke leg kedua play-off kualifikasi Piala Dunia Wanita melawan Yunani pada Selasa (20/10) malam waktu setempat di Leicester. Kemenangan 3-1 di Kreta pada Jumat lalu sudah mengantarkan Lionesses ke posisi yang menguntungkan, tetapi ketajaman Inggris di depan gawang kembali menjadi bahan pertanyaan setelah sejumlah peluang emas gagal dikonversi menjadi gol. Pelatih Sarina Wiegman pun secara terbuka menuntut anak asuhnya tampil lebih kejam dalam memanfaatkan peluang.
Pertanyaan ini bukan hal baru. Sejak finis sebagai runner-up Piala Dunia 2023, Inggris berulang kali mendominasi pertandingan tanpa mampu menutup laga dengan skor yang meyakinkan. Dengan Yunani yang masih menyimpan asa setelah mencetak satu gol dan sempat membentur mistar gawang di leg pertama, laga di Leicester menjadi ujian apakah Inggris benar-benar bisa menuntaskan pekerjaan rumahnya atau kembali membiarkan pintu terbuka bagi lawan.

Tuntutan Wiegman Setelah Dominasi Tanpa Efisiensi
Pada leg pertama di Kreta, Inggris menguasai bola hingga 74 persen dan melepaskan 26 tembakan. Namun dari seluruh upaya itu, hanya tiga gol yang tercipta, dan Yunani justru berhasil memperkecil kedudukan di babak kedua. Tuan rumah bahkan nyaris menambah gol lewat sepakan keras yang menghantam mistar gawang, sebuah peringatan nyata bahwa keunggulan Inggris tidak sekokoh statistik penguasaan bola.
Wiegman tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai timnya sudah berada di posisi yang tepat, tetapi gagal mengambil keputusan akhir yang benar. Menurutnya, persoalannya bukan sekadar soal tembakan, melainkan seluruh rangkaian aksi sebelum bola dilepaskan.
“Kami berada di posisi bagus, tetapi kemudian soal tetap onsid, umpan terakhir, umpan yang tepat di momen yang tepat, lari di waktu yang tepat, serta memutuskan umpan silang mana, cutback mana, dan apakah menuju tiang jauh,” ujar Wiegman pada Senin. Ia menambahkan bahwa hal itu juga berkaitan dengan koneksi antarpemain dalam situasi tersebut, sekaligus upaya menghilangkan ancaman serangan balik lawan.
Pola Berulang Sejak Piala Dunia 2023
Kesulitan Inggris memaksimalkan peluang sebenarnya sudah terlihat sejak Piala Dunia 2023, ketika mereka harus puas menjadi runner-up di belakang Spanyol. Di fase grup, Lionesses tampil kurang meyakinkan dan hanya menang 1-0 atas Haiti serta Denmark, dua tim dengan peringkat lebih rendah. Mereka lolos ke babak gugur dengan cara yang jauh dari impresif.
Jalur ke final pun ditempuh dengan susah payah. Inggris melewati Nigeria melalui adu penalti, lalu harus bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Kolombia 2-1 di perempat final. Pola serupa kembali muncul di kualifikasi Piala Dunia tahun ini, di mana Inggris tampil baik tetapi tidak pernah menang dengan mudah, hanya menyalip Islandia dan Spanyol secara tipis, serta kurang tajam saat menghadapi Yunani.
Meski demikian, Inggris tetap menciptakan peluang. Melawan Yunani, mereka mencatat 58 sentuhan di kotak penalti lawan dan 210 umpan di sepertiga akhir lapangan. Gelandang Keira Walsh menilai angka-angka itu justru menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada proses membangun serangan.
“Dalam pertandingan kualifikasi ini, hal yang mengkhawatirkan adalah jika kami tidak sampai ke sepertiga akhir. Itu akan jadi masalah yang lebih besar,” kata Walsh. “Yang kurang adalah umpan terakhir, umpan silang terakhir, dan penyelesaian akhir. Itu yang hilang. Saya melihat rekan-rekan melakukannya setiap hari di latihan, mereka luar biasa dalam hal itu.” Walsh mengakui keraguan di depan gawang terasa menjengkelkan dan ia tahu masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di leg kedua.
Bukan Soal Kualitas, tapi Penempatan Pemain
Masalah Inggris tampaknya bukan pada kurangnya talenta, melainkan pada cara terbaik memanfaatkan pemain yang ada. Lauren James dari Chelsea telah beberapa kali berpindah posisi, dari winger menjadi nomor 10, dan sesekali menjadi penyerang tengah. Fleksibilitas ini di satu sisi menambah opsi, tetapi di sisi lain membuat peran tiap pemain kurang tegas.
Cedera yang menimpa penyerang Aggie Beever-Jones dan Michelle Agyemang membuat Alessia Russo nyaris tanpa pesaing di posisi nomor sembilan. Lauren Hemp tampil dalam performa luar biasa, tetapi bukan pemain yang dikenal produktif mencetak gol. Sementara itu, Beth Mead kerap dimainkan di lini tengah maupun lini serang, sehingga kontribusinya di kotak penalti jadi terbatas.
Ada pula catatan positif yang bisa menjadi pijakan. Georgia Stanway, gelandang Arsenal, menjadi top scorer Inggris sejak Euro 2025 dengan 10 gol dan berada di tiga besar pemain Eropa dengan gol terbanyak di level internasional, dengan rasio satu gol per 81 menit. Wiegman berharap rekor itu ditiru pemain lain agar beban mencetak gol tidak menumpuk pada satu-dua nama saja.
Gol Mulai Menyebar, tapi Penyelesaian Akhir Masih Tumpul
Sejak Euro 2025, Inggris tercatat memiliki 11 pencetak gol berbeda. Bek Lucy Bronze, Jess Carter, dan Maya le Tissier semuanya ikut menyumbang gol dalam 18 bulan terakhir, sementara penyerang nomor sembilan menambah enam gol. Distribusi gol semacam ini sehat karena membuat lawan sulit memprediksi sumber ancaman.
Namun, Inggris tetap belum klinis. Sejak berakhirnya Euro 2025, mereka belum pernah menang dalam laga di mana mereka tertinggal lebih dulu, dengan kekalahan dari Brasil dan Spanyol menjadi bukti kerentanan tersebut. Hemp, yang sudah bermain 687 menit, hanya mencetak dua gol, sedangkan James belum menemukan jaring gawang dalam 425 menit terakhirnya.
Sebagian persoalan berasal dari tipe lawan yang dihadapi Inggris. Mereka sering bertemu tim yang bermain lebih bertahan dengan blok rendah dan menumpuk pemain di area pertahanan. Pola semacam ini menyulitkan Inggris untuk menembus pertahanan, terutama ketika umpan-umpan akhir dilakukan dengan tergesa-gesa.
Koneksi dan Tempo Jadi Kunci Menurut Para Mantan Pemain
Ellen White, mantan penyerang Inggris yang masih memegang status top scorer sepanjang masa Lionesses, menekankan pentingnya membangun koneksi dan mengatur tempo permainan. Ia berbicara dalam podcast Women’s Football Weekly dan menyoroti bahwa bola tidak bisa terus digerakkan dengan cepat tanpa arah yang jelas. Menurutnya, tim membutuhkan pemain di lini tengah yang mampu mengendalikan ritme permainan.
“Anda perlu membangun ritme sendiri. Anda tidak bisa terus-menerus menggerakkan bola dengan cepat, jadi Anda butuh pemain di lini tengah yang bisa mengaturnya,” kata White. Ia mencontohkan koneksi antara nomor 10 dan nomor 9, seraya menyebut Fran Kirby sebagai sosok ideal yang selalu bisa menempatkan bola di dekatnya. White menegaskan bahwa koneksi semacam itu harus dibangun, tidak muncul dengan sendirinya.
Kirby, mantan gelandang Inggris, menambahkan bahwa pergerakan di sekitar kotak penalti sama pentingnya. Ia menilai pemain harus tidak egois dalam bergerak, termasuk melakukan lari ke belakang garis pertahanan meski tidak akan menerima bola, demi memancing lawan keluar dari blok pertahanannya. Menurut Kirby, Inggris juga perlu mengumpan kepada rekan yang memiliki persentase posisi tembakan lebih baik, bukan memaksakan penyelesaian sendiri.
“Anda butuh satu orang membuat kesalahan dan meninggalkan ruang. Anda juga perlu mengumpan kepada seseorang yang punya persentase posisi tembakan lebih tinggi daripada Anda. Terlihat terburu-buru, alih-alih terkendali,” ujar Kirby. Ia menegaskan bahwa di dalam dan sekitar kotak penalti, permainan harus dilakukan dengan detail yang cermat.
Jalan Menuju Leg Kedua
Keunggulan 3-1 tetap menempatkan Inggris pada posisi yang nyaman, tetapi bukan berarti aman. Gol tandang Yunani dan peluang yang menghantam mistar gawang menunjukkan bahwa satu kelengahan bisa mengubah arah pertandingan dalam sekejap. Jika Inggris kembali boros peluang di Leicester, tekanan justru akan berpindah ke pihaknya sendiri.
Laga leg kedua menjadi kesempatan bagi Lionesses untuk membuktikan bahwa persoalannya hanya soal ketenangan di depan gawang, bukan keterbatasan kemampuan. Perbaikan pada umpan terakhir, pengambilan keputusan di kotak penalti, serta tempo permainan yang lebih terkendali akan menentukan apakah Inggris melaju dengan meyakinkan atau kembali menjalani laga yang menegangkan.