Kasus 115 Tuduhan Manchester City, Al Mubarak Tetap Yakin

Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 tuduhan pelanggaran aturan finansial Liga Primer Inggris. Di tengah kabar tersebut, Ketua Manchester City Khaldoon Al Mubarak menegaskan bahwa dirinya tetap yakin klubnya mampu membuktikan bahwa mereka tidak bersalah. Keyakinan itu ia sampaikan lewat surat terbuka kepada para pendukung yang diunggah di situs resmi klub.

Kasus 115 tuduhan Manchester City ini menjadi salah satu perkara paling pelik yang pernah menerpa sepak bola Inggris. Bentuk hukuman bagi klub belum diumumkan, sementara Manchester City dikabarkan akan mengajukan banding. Sejumlah klub Liga Primer juga mulai mencari nasihat hukum untuk mengkaji potensi tuntutan kompensasi. Artinya, persoalan ini belum selesai dan berpeluang mengubah peta kompetisi dalam beberapa tahun mendatang.

Manchester City

Apa Isi 115 Tuduhan Manchester City?

Dakwaan terhadap Manchester City mencakup rentang pelanggaran yang sangat luas. Inti tuduhannya adalah dugaan penggelembungan nilai pendapatan sponsor dari perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan pemilik klub. Selain itu, klub dituding melakukan sejumlah pembayaran di luar pembukuan resmi atau off the books sebagai cara memutar aturan keuangan yang berlaku.

Periode yang disorot dalam perkara ini bukan masa yang biasa bagi Manchester City. Selama rentang waktu tersebut, klub meraih delapan trofi, terdiri dari tiga gelar Liga Primer, tiga Piala EFL, satu Community Shield, dan satu Piala FA. Tuduhan yang ada menyentuh masa kepemimpinan dua manajer, Roberto Mancini dan Manuel Pellegrini, serta dua tahun pertama era Pep Guardiola.

Guardiola sendiri meninggalkan klub pada akhir musim lalu setelah sepuluh tahun menangani tim. Pada Jumat, diumumkan bahwa Manchester City dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari 115 tuduhan yang diajukan kepada mereka. Hingga kini, Liga Primer belum mengeluarkan pengumuman resmi terkait putusan itu dan memilih menolak berkomentar.

Kronologi: Investigasi Empat Tahun hingga Putusan

Kabar mengenai putusan ini pertama kali dilaporkan oleh The Athletic. Berita itu muncul 1.327 hari setelah Manchester City didakwa oleh Liga Primer pada Februari 2023, yang merupakan hasil investigasi selama empat tahun. Rentang itu juga terhitung 22 bulan sejak sidang oleh komisi independen dinyatakan selesai.

Menariknya, Manchester City menolak berkomentar soal apakah mereka benar-benar dinyatakan bersalah. Klub hanya menyampaikan pernyataan resmi yang menekankan bahwa proses Liga Primer masih berjalan. Menurut klub, masih ada elemen penting yang harus diselesaikan dan semuanya terikat aturan kerahasiaan yang ketat.

Dalam pernyataannya, Manchester City juga menegaskan telah mematuhi proses hukum selama delapan tahun. Klub menyatakan melakukan itu dengan asumsi bahwa dewan dan eksekutif Liga Primer akan bertindak sebagai regulator yang independen, tidak memihak, adil, dan bebas dari pengaruh partisan.

Isi Surat Khaldoon Al Mubarak untuk Para Pendukung

Al Mubarak, yang diangkat sebagai ketua Manchester City setelah pengambilalihan klub pada 2008, merespons putusan itu melalui surat terbuka. Ia mengaku memahami kegelisahan para pendukung karena dirinya sendiri merasakan hal serupa ketika kabar itu mencuat di media.

Ia menuturkan bahwa banyak orang menghabiskan waktu malam setelah pemberitaan hari Jumat untuk menjawab pertanyaan dan membalas pesan dari keluarga, kerabat, serta rekan kerja. Menurut dia, dirinya juga mengalami hal yang sama dan menyampaikan kepada keluarganya bahwa proses Liga Primer masih panjang. Keyakinan dan tekad klub untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah, katanya, sama kuatnya seperti saat perkara ini bermula.

Al Mubarak mengakui ada banyak hal yang ingin ia bagikan agar publik memahami alasan di balik keyakinan tersebut. Namun, ia menyebut kerahasiaan proses hukum dan tekad klub untuk menghormatinya membuat hal itu tidak bisa dilakukan saat ini. Bahkan surat tersebut, tambahnya, melewati beberapa kali pemeriksaan hukum sebelum dipublikasikan.

Dalam surat yang sama, ia menyatakan bahwa klubnya tengah diupayakan untuk digerus. Ia menilai banyak pihak yang terburu-buru menarik kesimpulan, tetapi situasinya tidak berubah. Menurutnya, Manchester City pernah menghadapi berbagai tantangan bersama-sama dan berhasil melewatinya, dan klub tidak akan memberi kesempatan kepada mereka yang ingin melemahkan momentum tim.

Sanksi Belum Diputuskan, Banding Jadi Penentu

Sampai saat ini, belum ada kejelasan soal sanksi yang akan dijatuhkan kepada Manchester City. Reperkusinya bisa sangat beragam, mulai dari pengurangan poin, pengusiran dari Liga Primer, hingga denda dalam jumlah yang sangat besar. BBC Sport diberitahu bahwa Manchester City akan mengajukan banding atas putusan tersebut.

Di sisi lain, klub-klub Liga Primer tengah mencari nasihat hukum terkait kompensasi yang berkaitan dengan tuduhan tersebut. Langkah itu menunjukkan bahwa dampak perkara ini tidak berhenti pada satu klub saja. Bila banding berjalan panjang, ketidakpastian bisa ikut menyelimuti agenda kompetisi dan perencanaan klub-klub lain.

Potensi Klaim Kompensasi dari Klub Liga Primer Lain

Christian Purslow, mantan direktur pelaksana Liverpool dan CEO Aston Villa yang juga pernah menjabat posisi senior di Chelsea, menilai perkara ini bisa memicu rangkaian peristiwa yang merugikan sepak bola secara luas. Ia berbicara dalam program Today di Radio 4 bersama pakar hukum sepak bola Paul Gilroy KC.

Gilroy menyebut kasus ini sebagai momen yang mengguncang dunia sepak bola. Sementara itu, Purslow menyoroti soal arah akhir dari perkara ini. Menurutnya, ada sembilan musim yang kini diketahui melibatkan pelanggaran aturan oleh Manchester City, dan pada setiap musim ada 19 rival Liga Primer yang menanggung kerugian yang relatif mudah dihitung.

Ia mencontohkan bahwa setiap posisi di klasemen bernilai sekitar £3 juta. Klub yang finis di posisi kelima dan gagal masuk Liga Champions, misalnya, bisa kehilangan puluhan juta poundsterling. Klub yang terdegradasi pun dinilai menanggung kerugian besar, sebab tim yang finis di peringkat 18 bisa saja berada di posisi 17 bila Manchester City tidak berada di kompetisi tersebut.

Menurut Purslow, jika seluruh klaim itu dijumlahkan selama sembilan tahun—baru sebatas di Liga Primer—potensi perkara ini untuk membesar di luar kendali sangat besar. Gilroy menambahkan bahwa sejauh ini sudah ada empat klub yang mengajukan klaim protektif, yakni klaim yang mempertahankan hak mereka untuk menuntut kompensasi bila Manchester City dinyatakan bersalah.

Reaksi Publik dan Suara dari Dalam Sepak Bola

Menteri Kebudayaan Inggris, Lisa Nandy, mendesak Liga Primer segera menyelesaikan perkara ini. Kepada BBC Radio 5 Live, ia menilai sebagian besar penggemar sepak bola akan merasa bahwa ini bukan momen yang baik bagi olahraga secara keseluruhan. Para pendukung Manchester City, menurutnya, juga pasti merasa sangat cemas menanti apa yang terjadi berikutnya.

Nandy menyebut situasi ini meresahkan bagi penggemar dan berharap semuanya bisa diselesaikan secepat mungkin. Ia menyatakan akan mencermati perkembangan yang muncul, tetapi menegaskan bahwa aturan Liga Primer tidak bisa diterapkan oleh pemerintah. Menurutnya, Liga Primer harus menyelesaikan persoalan ini sendiri, bukan hanya demi Manchester City, tetapi juga demi sepak bola secara umum.

Dari internal klub, mantan ketua Manchester City David Bernstein mengaku merasa sangat buruk saat mendengar kabar tersebut. Ia menyayangkan citra klub yang dibangun bertahun-tahun seolah tercoreng oleh perkara ini. Ia secara khusus merasa prihatin kepada para pendukung setia yang tetap bersama klub dalam situasi sulit maupun senang.

Bernstein menilai proses ini sudah berjalan terlalu lama sehingga banding harus diselesaikan dengan cepat. Klub, katanya, saat ini bermain dengan awan gelap menggantung di atas kepala mereka dan itu tidak berkelanjutan. Ia menyebut proses banding yang molor bertahun-tahun akan menjadi bencana, bukan hanya bagi kasus ini, tetapi juga bagi sepak bola Inggris secara umum.

Ia mengaku tidak bisa memberi pandangan soal bentuk hukuman. Namun, bila setelah banding klub dinyatakan bersalah atas 115 tuduhan, ia menyebut klub yang dicintainya itu akan menghadapi sanksi yang sangat berat. Menurutnya, hukuman berupa uang tidak akan cukup dan akan dibutuhkan langkah yang lebih drastis.

Penyanyi sekaligus penulis lagu Noel Gallagher juga angkat bicara. Penggemar Manchester City dan personel Oasis itu mengaku terkejut mendengar kabar tersebut, terutama karena klub selama ini menegaskan menolak seluruh tuduhan. Dalam podcast Let Me Talk, ia menyebut perasaannya campur aduk: terkejut, tetapi yang paling dominan adalah kesedihan, baik untuk para pendukung maupun para pemain.

Apa yang Perlu Dicermati Selanjutnya?

Perhatian berikutnya akan tertuju pada dua hal besar, yakni jalannya banding dan pengumuman sanksi. Bernstein menegaskan bahwa waktu menjadi faktor krusial. Menurutnya, ketidakpastian yang berkepanjangan tidak hanya merugikan Manchester City, tetapi juga mengganggu kredibilitas kompetisi secara keseluruhan.

Di sisi lain, dorongan dari pemerintah dan sorotan publik menambah tekanan agar semuanya tuntas lebih cepat. Sejumlah klub yang mengajukan klaim protektif kemungkinan akan menunggu hasil akhir sebelum mengambil langkah hukum lebih jauh. Semua mata kini tertuju pada komisi independen dan Liga Primer untuk menentukan arah akhir perkara ini.

Yang jelas, klub memilih bertahan pada posisinya. Al Mubarak menyatakan bahwa mereka pernah melewati berbagai ujian dan tetap bertahan. Retorika itu sekaligus menjadi pesan kepada para pendukung bahwa klub tidak berniat menyerah begitu saja menghadapi proses yang masih panjang.

Kasus 115 tuduhan Manchester City pada akhirnya bukan sekadar soal satu klub. Perkara ini menyentuh integritas aturan keuangan Liga Primer, hak klub-klub lain yang merasa dirugikan, serta kepercayaan penggemar terhadap keadilan kompetisi. Selama banding dan pembahasan sanksi belum tuntas, ketidakpastian akan terus membayangi sepak bola Inggris.

Bagi para pendukung Manchester City, surat Al Mubarak setidaknya memberi gambaran bahwa klub akan melawan hingga proses hukum selesai. Namun, sampai ada keputusan final, jawaban atas pertanyaan terbesar—seberapa berat hukuman yang akan dijatuhkan—masih belum bisa dipastikan.