Dokumenter Jose Mourinho Netflix: Menangis dan Batal ke MU

Dokumenter Jose Mourinho Netflix akhirnya resmi dirilis, dan seperti biasa, pelatih asal Portugal itu langsung mencuri perhatian lewat pernyataan kontroversialnya. Dalam trailer film tersebut, Mourinho dengan percaya diri berkata, “Kamu tidak membuat dokumenter tentang pria yang tidak memenangkan apa pun.” Padahal, sejak 2017, satu-satunya trofi yang ia raih hanyalah Liga Konferensi Eropa 2021-22 bersama Roma — kompetisi yang oleh Guardian kerap dijuluki “Tin Pot”. Meski demikian, pernyataan itu sekali lagi membuktikan bahwa Mourinho adalah maestro dalam menggiring opini publik.

Jose Mourinho

Kehadiran dokumenter ini juga bertepatan dengan kabar kembalinya Mourinho ke Real Madrid, klub yang dijuluki “Death Star” milik Florentino Pérez. Kegagalannya meraih gelar di Tottenham, Fenerbahce, maupun Benfica jelas membuat banyak orang meragukan kapasitasnya untuk membenahi tim sebesar Madrid. Namun Mourinho tampaknya tidak peduli; ia justru memanfaatkan momen ini untuk meyakinkan dunia bahwa dirinya masih layak disebut salah satu manajer terbaik di planet ini.

Dokumenter Jose Mourinho Netflix: Klaim Besar di Balik Trailer

Dokumenter yang tayang pada Selasa ini menghadirkan sejumlah tokoh pensiunan yang akan memuji pencapaian Mourinho dua dekade lalu. Mereka akan berbicara panjang lebar tentang masa kejayaan sang pelatih di Porto, Chelsea, Inter Milan, dan kadang-kadang juga di Real Madrid. Bagi penggemar sepak bola, deretan nama besar yang tampil dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri yang sulit dilewatkan.

Selain pujian dari para tokoh ternama tersebut, film ini juga menyimpan beberapa keping cerita menarik yang selama ini belum pernah terungkap ke publik. Salah satunya adalah klaim mengejutkan seputar Manchester United yang baru diketahui publik lewat dokumenter ini. Tak heran jika trailer-nya saja sudah cukup membuat penonton penasaran dan menantikan perilisan penuh film tersebut.

Kisah Menangis yang Hampir Mengubah Sejarah Manchester United

Salah satu momen paling dramatis dalam dokumenter ini adalah pengakuan Mourinho tentang kejadian pada 2013. Saat itu, ia mengaku telah menandatangani kontrak dengan Manchester United untuk menggantikan Sir Alex Ferguson, tetapi batal di menit-menit terakhir. “Saya pergi ke Chelsea pada 2013, tetapi di periode itu ada sesuatu yang tidak diketahui siapa pun,” ungkap Mourinho. “Ketika saya meninggalkan Real Madrid untuk pertama kalinya, saya sudah menandatangani kontrak dengan Manchester United untuk bergabung setelah Sir Alex.”

Ferguson, yang juga tampil dalam dokumenter ini, membenarkan cerita tersebut. Ia menuturkan bahwa Mourinho meneleponnya sambil menangis dan berkata, “Alex, saya tidak sanggup. Saya sudah memberi kata-kata kepada Chelsea, dan saya tidak akan mengingkarinya.” Alasan yang diberikan Mourinho bisa ia pahami, tetapi Ferguson tetap mengaku kecewa dengan keputusan itu.

Dampak Kembalinya Mourinho ke Real Madrid

Kembalinya Mourinho ke Real Madrid tentu menjadi skenario yang penuh ironi. Klub raksasa Spanyol itu memang terkenal sebagai ladang sepak bola yang tenang — setidaknya itulah sindiran yang ditulis Guardian — padahal kenyataannya ego, tekanan, dan pengawasan ketat selalu menghantui siapa pun yang duduk di kursi manajernya. Bagi Mourinho, tekanan semacam itu bukan hal asing; ia justru tampak berkembang dalam situasi seperti ini.

Netflix pun disarankan untuk segera menyiapkan kamera lagi karena musim ini di Madrid akan menjadi bahan dokumenter yang luar biasa. Sementara itu, para kritikus mungkin akan menganggap tindakan Mourinho — menandatangani kontrak dengan United sambil berjanji ke Chelsea, lalu menangis — sebagai kekacauan khas dirinya. Namun tak ada yang bisa memungkiri bahwa ia tetap menjadi magnet penonton yang luar biasa, baik saat menang maupun kalah.

Mengapa Dokumenter Jose Mourinho Netflix Diprediksi Laris?

Ada setidaknya tiga alasan mengapa dokumenter Jose Mourinho Netflix ini diprediksi akan banyak ditonton:

  • Rasa nostalgia yang hangat dari para penggemar yang merindukan masa kejayaan Mourinho.
  • Cuaca panas ekstrem di belahan bumi utara yang membuat orang-orang lebih memilih berdiam diri di dalam rumah.
  • Kenyataan bahwa selama bertahun-tahun, Mourinho memang merupakan pelatih paling menghibur di dunia sepak bola.

Dalam kurun waktu itu, Mourinho benar-benar menjadi hal terbaik sejak pukulan sliced backhand milik Steffi Graf — di Porto, di Chelsea, di Inter, dan ya, bahkan kadang-kadang di Madrid. Ia bukan sekadar manajer biasa, melainkan sosok “box office” yang selalu berhasil menghibur publik. Kehadiran Ferguson dan sederet tokoh besar lainnya dalam film ini semakin memperkuat daya tarik dokumenter tersebut.

Kabar Lain di Dunia Sepak Bola

Derek McInnes dan Tekanan di Rangers

Di luar hiruk-pikuk dokumenter Mourinho, ada kabar menarik lainnya dari Skotlandia yang patut disimak. Derek McInnes, manajer Rangers, kini berada di bawah tekanan besar setelah timnya tertinggal lima poin dari Celtic di Liga Utama Skotlandia, padahal kompetisi baru berjalan dua pertandingan. Kekalahan 2-1 dari Hibs di Ibrox membuat posisinya semakin genting, dan ia pun meluapkan kegelisahannya di hadapan media.

Tekanan yang dihadapi McInnes terasa melalui pernyataannya yang emosional. “Sudah 15 tahun frustrasi di klub ini. Tidak ada yang tahu lebih dari saya. Setiap tim Rangers adalah produk sampingan dari frustrasi itu. Para penggemar Rangers hanya ingin melihat tim mereka menang, begitu juga saya. Kami akan sampai di sana. Saya tidak akan meminta kesabaran lebih karena menurut saya penggemar Rangers sudah cukup sabar,” katanya. Pernyataan itu menunjukkan