Celtic Disebut Alami Regresi Usai Kalah dari Falkirk

Celtic menelan kekalahan keenam dalam 10 pertandingan di semua kompetisi setelah takluk dari Falkirk pada laga Scottish Premiership, Minggu. Hasil itu langsung memantik kritik keras dari kalangan pengamat, danChris Sutton menjadi salah satu suara paling lantang. Menurut mantan penyerang yang kini bekerja sebagai komentator Sky Sports tersebut, Celtic sedang mengalami regresi, bukan sekadar kekalahan biasa.

Penilaian itu muncul di tengah posisi Celtic yang sebenarnya masih kokoh di puncak klasemen dengan keunggulan empat poin. Namun performa tim asuhan Martin O’Neill belakangan ini memunculkan pertanyaan soal arah permainan dan konsistensi. Kekalahan dari Falkirk dianggap sebagai puncak dari rentetan hasil buruk yang membuat jarak di puncak berpotensi menyusut jika Rangers dan Hearts memenangi laga tunda mereka.

Celtic Disebut Alami Regresi Usai Kalah dari Falkirk

Kritik Sutton: Celtic Tidak Berfungsi sebagai Tim

Dalam analisisnya seusai pertandingan, Sutton menyatakan bahwa O’Neill tentu tidak akan mengucapkan hal itu secara terbuka, tetapi masalahnya nyata. Ia menyebut klub sedang berada dalam regresi dan timnya ikut mengalami hal serupa. Pernyataan itu disampaikannya melalui Sky Sports dengan nada yang jauh lebih tajam dibanding komentarnya selama pertandingan berlangsung.

Menurut Sutton, Celtic saat ini bukan tim yang berfungsi dengan baik. Ia mengaku kesulitan memahami bagaimana tim sebenarnya ditata, dan menilai permainan mereka terkesan spontan atau keluar dari rencana. Kritik itu ditutup dengan pertanyaan mendasar soal arah klub: di mana rencananya, dan apa strateginya.

Senada dengan Sutton, mantan striker Rangers Kris Boyd mengaku tidak bisa menangkap apa yang coba dilakukan Celtic di lapangan. Sorotan serupa datang dari Ian McCall, yang menilai masalah Celtic bukan semata soal taktik. Ia menunjuk faktor usia dan cedera yang mulai menagih performa para pemain yang sebelumnya nyaris tanpa cela.

Dominasi Statistik yang Tak Berbuah Gol

Ironi terbesar dari kekalahan itu terlihat pada statistik. Celtic melepaskan 24 tembakan berbanding enam milik Falkirk, dengan sembilan di antaranya mengarah ke gawang sementara Falkirk hanya mencatat dua tembakan tepat sasaran. Dua tembakan itulah yang berubah menjadi gol, sehingga efisiensi menjadi pembeda utama dalam laga tersebut.

Penguasaan bola Celtic lebih dari dua kali lipat lawan, dan sentuhan mereka di kotak penalti Falkirk hampir tiga kali lebih banyak. Celtic juga mendapatkan 14 sepak pojok, sementara Falkirk tidak memperoleh satu pun. Angka-angka ini mempertegas bahwa masalahnya bukan pada kemampuan menekan, melainkan pada penyelesaian akhir dan ketenangan di momen krusial.

Ada pula faktor lain yang diakui sendiri oleh O’Neill, yakni penampilan kiper Scott Bain. Kiper yang berseragam Falkirk itu tampil luar biasa melawan mantan klubnya dan menjadi tembok terakhir yang sulit ditembus. Falkirk sendiri dinilai tampil gigih dan mampu bertahan ketika harus mengamankan keunggulan hingga peluit akhir.

Usia dan Cedera Mulai Menagih Pemain Kunci

Ian McCall menyoroti kondisi beberapa pemain yang selama ini menjadi tulang punggung Celtic. Ia menyebut nama Carter-Vickers, Tierney, McGregor, dan Forrest sebagai contoh pemain yang, karena alasan berbeda-beda, tidak lagi berada di level terbaiknya. Dalam pandangannya, hal seperti itu memang biasa terjadi dalam sepak bola dan terasa kejam bagi sebuah tim.

Untuk kasus Callum McGregor, McCall menduga penyebabnya adalah beban bermain yang berlebihan. Ia menyebut tubuh para pemain mungkin sudah tidak mampu mencapai level yang dulu mereka tunjukkan. Dari situ ia menyimpulkan bahwa Celtic saat ini bukanlah versi terbaik dari dirinya, atau dengan kata lain bukan Celtic yang istimewa.

Kritik ini penting karena menyentuh akar masalah, bukan hanya hasil satu pertandingan. Persoalan regenerasi dan manajemen beban bermain menjadi pertanyaan yang lebih besar dibanding sekadar kekalahan di satu laga. Jika pemain kunci terus menurun performanya, dampaknya akan terasa sepanjang musim, terutama ketika jadwal padat dan laga Eropa menanti.

Rentetan Hasil dan Tekanan di Puncak Klasemen

Terlepas dari kompetisi Eropa, perjalanan Celtic di musim ini sebenarnya sempat berjalan mulus. Setelah kalah dari Rangers di Piala Liga dan liga, mereka bangkit dengan kemenangan solid di markas Motherwell. Mereka juga menghancurkan Hearts, runner-up musim lalu, dengan skor 7-1 di kandang, lalu menang 2-1 dari posisi tertinggal di markas Hibernian.

Namun hasil imbang 2-2 melawan Dundee United pada Rabu menjadi peluang yang terbuang untuk memperlebar keunggulan di puncak. Kini Celtic menghadapi kemungkinan Rangers dan Hearts terus mendekat apabila keduanya memenangi pertandingan tunda. Tekanan pun bertambah karena jadwal berikutnya tidak memberi ruang untuk bersantai.

Mantan kiper Celtic Pat Bonner menyebut akhir pekan ini sebagai momen yang menguntungkan bagi Rangers, yang menang atas Aberdeen di semifinal Piala Liga pada Sabtu. Dengan Rangers lolos ke final dan Celtic tumbang, jarak di klasemen berpeluang menyusut saat laga tambahan dimainkan. Situasi itu, menurutnya, menempatkan tekanan besar pada Celtic menjelang laga Eropa di tengah pekan.

Besiktas Menanti, Peluang di Eropa Mulai Menipis

Laga berikutnya adalah menghadapi Besiktas di Europa League, dan ini menjadi pertandingan yang wajib dimenangi Celtic. Pasalnya, mereka memulai kiprah di kompetisi tersebut dengan tiga kekalahan beruntun. Tanpa kemenangan di kandang, peluang untuk melanjutkan langkah di Eropa akan semakin sulit dipertahankan.

Bonner menilai situasi ini akan membuat upaya bangkit dari kekalahan atas Falkirk menjadi jauh lebih berat. Beban mental pemain bertambah karena mereka tidak hanya harus memperbaiki performa di liga, tetapi juga menyelamatkan kampanye Eropa. Kombinasi tekanan domestik dan Eropa inilah yang membuat pekan ini krusial bagi O’Neill dan skuadnya.

Di sisi lain, O’Neill sendiri pernah berada di posisi serupa dan berhasil melewatinya. Musim lalu ia dua kali kembali ke kursi pelatih saat Celtic membutuhkan, dan pada akhirnya mengantar tim meraih gelar liga sekaligus Piala. Rekam jejak itu menjadi salah satu alasan mengapa sebagian pihak masih menahan diri untuk menyimpulkan bahwa situasi saat ini sudah tidak bisa diperbaiki.

Pembelaan O’Neill soal Rotasi dan Posisi di Klasemen

Dalam wawancara pascapertandingan yang berlangsung cukup tegang, O’Neill menegaskan bahwa posisi Celtic setelah 12 pertandingan masih lebih baik dibanding musim lalu. Saat itu, pada tahap yang sama, mereka tertinggal empat poin dari pemuncak klasemen, Hearts. Ia juga menyinggung panjangnya musim dan menegaskan bahwa penilaian tidak seharusnya diambil dari satu hasil saja.

Ketika ditanya soal banyaknya perubahan di tim, O’Neill balik bertanya mengapa ia tidak boleh merotasi pemain. Ia menyebut jadwal pertandingan yang sangat padat, termasuk keterlibatan di kompetisi Eropa, sebagai alasan utama. Menurutnya, meminta pemain yang sama tampil setiap pekan adalah hal yang sulit diwujudkan, terutama ketika tim berusaha menjaga nama sepak bola Skotlandia di pentas Eropa.

Terkait reaksi pendukung, O’Neill mengaku tidak tahu apakah mereka marah. Ia memahami bahwa setiap kali Celtic kalah, kemarahan dan kekecewaan adalah hal wajar. Ia juga menyadari timnya memang berada di bawah sorotan, dan menilai hal itu pantas terjadi karena klub ini terbiasa menang.

Apa Kata Pendukung Celtic

Kekecewaan tidak hanya datang dari pengamat, tetapi juga dari kalangan pendukung. Sejumlah suporter menyuarakan kritik terhadap keputusan taktik, pilihan pemain pengganti, hingga masa depan O’Neill di klub. Berikut sebagian pandangan yang mereka sampaikan:

  • Alan menilai alur permainan sudah kehilangan arah. Ia menyebut pilihan pemain di bangku cadangan aneh, pergantian di babak kedua lebih aneh lagi, terutama ketika dua gelandang terbaik ditarik keluar sementara kapten yang tampil di bawah performa tetap dibiarkan di lapangan.
  • Imran berpendapat sepak bola telah berubah terlalu jauh bagi O’Neill untuk menjadi pelatih modern. Ia menyarankan agar O’Neill mengambil peran di belakang layar dan memberi kesempatan kepada pelatih muda yang lebih ambisius, agar warisannya tidak ternoda.
  • Sean menilai penampilan Celtic sangat buruk dan menegaskan bahwa Falkirk memang layak menang.
  • Kevin memilih sikap berbeda dengan mengajak sesama pendukung tetap menjaga keyakinan dan bertahan.
  • Edward menyoroti penampilan kiper dan performa Carter-Vickers yang mengecewakannya. Ia mempertanyakan apakah O’Neill masih mampu memajukan tim ini, dan menilai jika jawabannya adalah Forrest, Tounekti, serta McCowan, maka persoalannya bukan lagi soal cara memenangi pertandingan.
  • Liam menilai situasi sudah keterlaluan dan berubah cepat menjadi bencana. Ia menuntut perubahan menyeluruh, mulai dari direksi, manajer, staf pelatih, hingga pemain, dan menyindir soal kualitas yang seharusnya lebih penting daripada kuantitas.

Deretan komentar itu menunjukkan bahwa kritik tidak tunggal. Sebagian menyoroti taktik dan rotasi, sebagian mempertanyakan arah jangka panjang klub, dan sebagian lagi tetap memberi dukungan. Perbedaan sikap ini mencerminkan besarnya ekspektasi yang melekat pada Celtic, klub yang terbiasa bersaing di jalur juara.

Kesimpulan

Kekalahan dari Falkirk mempertegas bahwa persoalan Celtic bukan hanya soal hasil, melainkan soal performa yang tidak lagi sejalan dengan dominasi statistik. Kritik Sutton, Boyd, dan McCall menyoroti hal yang sama: tim ini belum menemukan pola yang jelas, sementara pemain kunci mulai terganggu usia dan cedera. Di sisi lain, posisi di puncak klasemen dan rekam jejak O’Neill menjadi argumen bahwa situasinya belum seburuk yang dibayangkan.

Yang pasti, pekan ini akan menjadi ujian nyata. Laga melawan Besiktas di Europa League dan ancaman penyusutan jarak dari Rangers serta Hearts akan menentukan apakah Celtic benar-benar sedang mengalami regresi atau hanya melewati fase naik-turun yang wajar dalam satu musim panjang. Jawabannya baru akan terlihat dari cara tim ini merespons tekanan.