Kelas Bahasa Inggris di Balik Sukses Akademi Midtjylland

Jika ada rahasia di balik keberhasilan akademi Midtjylland di bursa transfer, jawabannya dimulai dari ruang kelas. Pemain yang datang ke klub Denmark itu wajib mengikuti pelajaran bahasa Inggris minimal tiga kali sepekan, dan menurut manajemen klub, kemampuan berbahasa sama pentingnya dengan sesi latihan di lapangan.

Pendekatan tak biasa itu terbukti berbuah manis. Sejak 2018, Midtjylland telah mengantongi lebih dari €200 juta (sekitar £170 juta) dari penjualan pemain, dan musim panas ini mereka baru saja menikmati jendela transfer paling menguntungkan sepanjang sejarah singkat klub. Direktur teknik Kristian Kjær bahkan memilih satu kata untuk menggambarkan dua bulan terakhir: “hektik”.

Akademi Midtjylland

Jendela Transfer Paling Menguntungkan dalam Sejarah Klub

Dua nama terakhir yang meninggalkan Midtjylland adalah penyerang Guinea-Bissau, Franculino Djú, yang bergabung dengan Trabzonspor, serta penyerang Chili, Darío Osorio, yang pindah ke Crystal Palace dengan status pinjaman disertai kewajiban membeli. Kedua transaksi itu rampung hanya dalam 48 jam pada akhir jendela transfer dan berpotensi menghasilkan €62 juta (sekitar £53,2 juta).

Sebelumnya, klub juga melepas pemain jebolan akademi, Aral Simsir, dan bek asal Korea Selatan, Lee Han-beom, ke Club Brugge dengan nilai tambahan sekitar €25 juta. Artinya, dalam satu periode singkat, Midtjylland mengubah tiga aset utamanya menjadi pemasukan yang sangat besar bagi klub sekelas liga Denmark.

Di sisi lain, klub tidak tinggal diam. Mereka merekrut David Martínez, pemain timnas Venezuela berusia 20 tahun dari klub MLS, LAFC, dengan mahar €7,3 juta yang menjadi rekor transfer masuk termahal bagi Midtjylland. Perekrutan itu menunjukkan pola yang konsisten: menjual mahal, lalu mendatangkan pengganti muda dengan harga yang jauh lebih terkendali.

Bahasa Inggris sebagai Bagian Tak Terpisahkan dari Latihan

Yang menyatukan para pemain yang dijual dengan harga tinggi itu bukan hanya kualitas teknis, melainkan cara klub mendidik mereka. Pelajaran bahasa Inggris wajib menjadi bagian dari rutinitas, dan Kjær menegaskan bahwa sesi itu tidak bisa dianggap sekadar pelengkap. “Itu sama pentingnya bagi mereka seperti berlatih,” ujarnya.

Alasannya sangat praktis. Menurut Kjær, jika seorang pemain tidak mampu memahami bahasa Inggris dalam enam bulan, ia tidak akan bisa berkomunikasi dengan pelatih. Komunikasi yang lancar, lanjutnya, menjadi fondasi bagi kesuksesan bersama seluruh tim, terutama karena skuad Midtjylland kini dihuni 17 kewarganegaraan dari lima benua.

Untuk mempercepat adaptasi, klub mempekerjakan pelatih dari berbagai belahan dunia yang membantu pemain baru menyesuaikan diri. “Kami tidak menjalankan Midtjylland sebagai klub Denmark; kami adalah klub internasional,” kata Kjær. Ia menyebut Djú dan Osorio sebagai “poster boy” dari apa yang sedang klub ini bangun.

Kisah Darío Osorio: Nutrisi, Adaptasi, dan Harga Selangit

Kepindahan Osorio nyaris menjadi penjualan termahal dari kompetisi utama Denmark. Palace memiliki kewajiban membayar £22,3 juta pada musim panas mendatang, ditambah potensi bonus hingga £3,4 juta. Transaksinya sendiri baru dikonfirmasi hampir dua jam setelah tenggat jendela transfer Premier League berakhir.

Pemain berusia 22 tahun itu langsung dipercaya tampil. Ia menjalani start pertamanya untuk Palace dalam kemenangan 3-0 atas Middlesbrough di Piala Carabao, setelah sebelumnya masuk sebagai pengganti melawan Fulham di Premier League. Padahal, Midtjylland pertama kali menemukannya saat membela Universidad de Chile, lalu berhasil menyingkirkan RB Leipzig, Milan, dan Atalanta untuk mendapatkan tanda tangannya pada Agustus 2023, bulan yang sama ketika pemilik Brentford, Matthew Benham, melepas saham mayoritasnya kepada pengusaha Denmark, Anders Holch Povlsen.

Menurut Kjær, Osorio memilih Midtjylland karena sadar klub itu bisa menjadi jembatan menuju Premier League, impiannya sejak kecil. Namun yang paling penting justru adaptasi di luar lapangan. Kjær menyebut sepak bola Chili tidak memiliki tatanan paling profesional dalam hal nutrisi dan kebiasaan sehari-hari: Osorio terbiasa makan banyak roti tawar saat malam, dan ia tidak paham mengapa tubuhnya tidak berenergi penuh di pagi hari. Penyesuaian rencana nutrisi pun menjadi salah satu langkah pertama yang dilakukan klub.

Di lapangan, Osorio yang dominan kaki kiri ini lebih nyaman bermain sebagai penyerang sayap kanan yang bergerak ke dalam, meski juga bisa mengisi peran nomor 10. Ia mengakhiri musim pertamanya di Denmark dengan delapan gol liga. “Sejak itu, kami melihatnya menambah lapisan demi lapisan,” kata Kjær. Ia menilai Osorio sudah melampaui level liga Denmark dan yakin pemain itu punya kualitas untuk bersaing di Premier League bukan sebagai pemain cadangan, melainkan sebagai pemain inti.

Hari Terakhir yang Menegangkan di Jendela Transfer

Kepindahan Osorio tidak berjalan mulus dari awal. Pada hari terakhir jendela transfer, Palace awalnya mengejar Malick Fofana, sebelum berbalik arah ke Osorio di menit-menit akhir setelah penyerang Lyon itu memilih Sunderland.

Kjær mengaku sudah menyiapkan agen dan pemainnya untuk kemungkinan terburuk. Menurut dia, klub-klub Inggris tidak cukup berani mendatangkan pemain dari luar Inggris, apalagi dari liga di luar lima liga top Eropa, sehingga keputusan sering kali baru diambil di hari-hari terakhir. “Itu cukup menegangkan, terutama bagi Darío,” ujarnya.

Meski begitu, Osorio dianggap sudah punya kesiapan mental menghadapi situasi tersebut. Ia memahami bahwa ia harus tampil baik sejak awal musim untuk menjaga dirinya tetap terlihat di pasar. Pola pikir seperti itu, menurut Kjær, justru memperkuat nilai jual seorang pemain di mata klub besar.

Strategi Jangka Panjang dan Ladang Talenta di Afrika

Untuk menambal kepergian Osorio dan Djú, yang musim lalu menjadi top skor dengan 17 gol, Midtjylland berharap Martínez bisa langsung memberi kontribusi. Namun klub juga terus memanen hasil investasi jangka panjangnya, termasuk akademi FC Ebedei di Nigeria yang didirikan pada 2004 dan telah melahirkan pemain seperti Frank Onyeka dari Coventry.

Dari jalur itu pula datang dua remaja menjanjikan, Olashile Musa Lawal dan Ikenna Udechukwu, yang kini memperkuat skuad. Mereka menjadi bagian dari upaya klub merebut gelar liga pertama sejak 2024, setelah musim lalu harus puas menjadi runner-up di belakang kejutan musim, AGF.

Kjær tidak menyangkal bahwa keberhasilan ini adalah buah kerja panjang. “Kami berdiri di atas pundak pekerjaan yang sudah kami lakukan sebelumnya,” katanya. Ia mengakui ucapannya mungkin terdengar membosankan karena semuanya menuntut kerja keras, tetapi hasil ini memang sesuai strategi dan bukan semata keberuntungan. “Itu sebabnya kami bangga. Ini bukan hanya soal keberuntungan,” tegasnya.

Kesimpulan

Kisah Midtjylland menunjukkan bahwa pabrik talenta tidak dibangun hanya dari bakat dan taktik di lapangan. Pelajaran bahasa Inggris tiga kali sepekan, penyesuaian nutrisi, hingga jaringan akademi di Nigeria adalah bagian dari sistem yang membuat pemain seperti Osorio dan Djú berkembang cepat lalu dijual dengan harga tinggi.

Dengan 17 kewarganegaraan di dalam skuad dan lebih dari €200 juta pemasukan sejak 2018, klub asal Denmark itu membuktikan bahwa identitas sebagai klub internasional bisa menjadi keunggulan kompetitif. Selama strateginya berjalan konsisten, jendela transfer berikutnya kemungkinan besar akan kembali menjadi momen panen bagi akademi Midtjylland.