Beyond the Goalposts Dorong Diversitas Sepak Bola Wanita

Penyerang Liverpool, Aurélie Csillag, menjadi salah satu tokoh di balik inisiatif baru yang mengangkat isu diversitas sepak bola wanita. Perempuan berusia 23 tahun itu mengaku tak pernah punya panutan saat masih kecil. Kini ia bertekad menjadi teladan bagi generasi penerus.

Inisiatif bertajuk Beyond the Goalposts ini digagas oleh yayasan klub Liverpool dan mulai dijalankan pada Oktober. Program tersebut dirancang untuk membuka jalur dan kesempatan bagi anak perempuan serta perempuan berkulit hitam dan kelompok marginal. Kesempatan itu terbuka, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Beyond the Goalposts

Apa Itu Beyond the Goalposts?

Beyond the Goalposts dijalankan oleh LFC Foundation, yayasan milik Liverpool. Melalui program ini, klub ingin menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan memberdayakan bagi para pesertanya. Berbagai sesi disiapkan, termasuk bantuan edukasi dan pendampingan, dengan menyasar komunitas di kota Liverpool.

Sesi perdana dijadwalkan berlangsung pada 1 Oktober. Meski demikian, siapa pun yang tertarik sudah dapat mendaftarkan minatnya kapan saja. Program ini menghadirkan para ahli sekaligus pemain yang akan mendampingi sesi di lapangan dan memberi dukungan kepada peserta yang mendaftar.

Materi yang dibahas meliputi kepemimpinan, mentoring, kesehatan dan kesejahteraan, keterlibatan komunitas, serta advokasi. Selain sesi di lapangan, peserta juga dibekali pemahaman soal bagaimana karier di dunia sepak bola dapat berkembang di luar lapangan. Ada pula kegiatan di Anfield pada hari pertandingan dan sebuah festival sepak bola. Pendanaan dari Premier League turut membantu kelancaran program ini.

Riset di Balik Lahirnya Program

Program ini tidak muncul tanpa dasar. Liverpool menyediakan riset yang menemukan bahwa anak perempuan berusia lima tahun pun sudah merasa tidak diterima dalam dunia olahraga. Riset itu juga mengungkap hanya 30 persen orang tua yang menganggap bermain olahraga sebagai hal penting.

Temuan lain menyebutkan, meskipun 60 persen anak perempuan berkulit hitam ingin menjadi atlet elite, mereka justru termasuk kelompok anak perempuan paling tidak aktif di Inggris. Riset tersebut juga mencatat bahwa satu dari dua anak perempuan berkulit hitam merasa perlu menyembunyikan identitas budayanya. Kedua temuan ini memperlihatkan adanya jurang antara keinginan dan kenyataan yang dihadapi kelompok tersebut.

Angka-angka itu memberi gambaran bahwa persoalan yang dihadapi tidak sekadar soal kesempatan bermain, tetapi juga soal rasa diterima. Itulah yang mendorong Liverpool menyiapkan Beyond the Goalposts sebagai langkah awal untuk menjawab persoalan tersebut.

Kurangnya Panutan dan Krisis Kepercayaan Diri

Ketika dimintai pendapat soal mengapa anak perempuan dan perempuan berkulit hitam maupun kelompok marginal enggan bermain sepak bola, Csillag menyebut kurangnya panutan sebagai faktor terpenting. Menurutnya, faktor lain adalah sulitnya mengakses olahraga tersebut. Ia menilai, tanpa sosok yang bisa dicontoh, banyak dari mereka akhirnya kehilangan alasan untuk bertahan.

Ia juga menyoroti persoalan kepercayaan diri. Csillag mengaku dirinya sangat berbeda ketika mulai bermain sepak bola, begitu pula bentuk tubuhnya. Ia bermain di sebuah tim yang seluruh anggotanya adalah anak perempuan berkulit putih, sehingga struktur tubuh mereka jauh berbeda dan hal itu membuat kepercayaan dirinya menurun.

Csillag mengenang bagaimana ia mempertanyakan tubuhnya sendiri. Ia bertanya mengapa tubuhnya begitu tinggi, mengapa pahanya begitu besar, mengapa semuanya berbeda. Ia mulai membandingkan dirinya dengan rekan-rekan setimnya, dan ia menduga banyak anak perempuan lain mengalami hal serupa sehingga kehilangan kepercayaan diri. Akibatnya, mereka bisa berhenti bermain karena kurang dukungan atau kurangnya kesadaran.

Baginya, kehadiran satu orang berkulit hitam lain di tim akan sangat berarti. Csillag mengaku kini senang karena tim nasional Swiss memiliki empat pemain berkulit hitam, padahal lima tahun lalu hanya ada satu atau dua. Ia menilai hal itu penting untuk menunjukkan kepada anak perempuan dan perempuan bahwa hal tersebut mungkin terjadi, dan bahwa panutan semacam itu memang ada di olahraga ini.

Representasi dan Prinsip “Visibility Starts at the Top”

Bagi Csillag, perubahan harus dimulai dari atas. Menurutnya, hal terpenting adalah adanya orang-orang berkulit hitam di jajaran staf pada posisi yang lebih tinggi, karena ia jarang sekali melihatnya. Setiap kali ia menyaksikan hal itu, ia berpikir bahwa suatu hari dirinya mungkin bisa mencapai posisi yang sama.

Ia mempertanyakan bagaimana seorang anak perempuan bisa membayangkan hal tersebut jika ia belum pernah melihatnya sama sekali. Csillag yakin, dengan sendirinya anak-anak perempuan akan mengikuti impian dan jalur tersebut. Baginya, visibilitas memang dimulai dari atas.

Dampak Program pada Diversitas Sepak Bola Wanita

Klub menyebut program ini sebagai langkah awal yang dibutuhkan dalam olahraga wanita. Menurut Liverpool, warisan proyek tersebut akan melampaui pelaksanaan sesi. Perubahan yang diharapkan pun bersifat berkelanjutan bagi para peserta, yayasan, klub, dan komunitas yang lebih luas.

Melalui pengembangan kepemimpinan, dukungan sebaya, dan keterlibatan yang bermakna dengan LFC Foundation, peserta diharapkan membangun kepercayaan diri, keterampilan, dan jaringan yang diperlukan untuk mendorong perubahan positif. Csillag sendiri menegaskan bahwa setiap orang harus merasa bahwa sepak bola adalah tempat bagi mereka. Menurutnya, program seperti Beyond the Goalposts membantu mewujudkan hal itu dengan menciptakan kesempatan, membangun kepercayaan diri, dan menampilkan keberagaman yang membuat permainan ini semakin kuat.

Saat ini, program tersebut hanya diperuntukkan bagi warga Liverpool. Namun, klub menyatakan ingin memperluasnya ke depan. Liverpool juga mendorong organisasi olahraga lain untuk mengadopsi program serupa.

Melalui Beyond the Goalposts, Liverpool berupaya membuka jalan bagi lebih banyak perempuan berkulit hitam dan kelompok marginal untuk terlibat dalam sepak bola, baik sebagai pemain maupun di luar lapangan. Langkah ini menyoroti pentingnya akses, dukungan, dan rasa percaya diri yang selama ini menjadi hambatan.

Namun, seperti ditegaskan Csillag, perubahan itu tidak cukup berhenti di lapangan. Representasi di posisi-posisi tinggi menjadi kunci agar anak-anak perempuan punya sosok yang bisa mereka contoh. Selama visibilitas itu terwujud, impian untuk berkarier di dunia sepak bola akan terasa lebih mungkin bagi generasi berikutnya.