Manchester City menutup akhir pekan dengan cara yang nyaris sempurna. Kemenangan Man City 5-3 Sunderland di Etihad Stadium pada Minggu menjadi penutup rangkaian 24 jam yang ideal bagi manajer Enzo Maresca. Hasil itu sekaligus memastikan City melaju ke jeda internasional dengan tujuh kemenangan beruntun di semua kompetisi.
Yang membuat akhir pekan ini terasa istimewa adalah apa yang terjadi sehari sebelumnya. Arsenal, sang juara bertahan, dihancurkan Brighton 3-0 di pantai selatan Inggris, dan City memanfaatkan peluang itu sepenuhnya. Kini mereka unggul tiga poin di puncak Premier League dan menjadi satu-satunya klub di empat divisi teratas Inggris yang masih menjaga rekor kemenangan 100 persen.

Man City 5-3 Sunderland: Laga Terbuka dengan Delapan Gol
Maresca menyebut duel melawan Sunderland sebagai ujian tersulit bagi timnya sepanjang musim ini, dan perkiraan itu terbukti benar. Sunderland datang bukan untuk bertahan: mereka menekan agresif saat kehilangan bola dan mengandalkan berbagai senjata ketika menguasai bola, termasuk situasi bola mati serta striker Brian Brobbey. Meski pertahanan City berulang kali goyah, lini serang mereka tetap menemukan cara untuk menyelesaikan laga dengan kemenangan.
Ada banyak hal positif yang bisa dipetik City dari pertandingan ini. Antoine Semenyo kembali ke performa terbaiknya lewat sumbangan dua gol dan satu assist, Rayan Cherki tampil memikat, dan Enzo Fernandez membukukan gol pertamanya untuk klub. Kombinasi itu membuat City mencetak lima gol ke gawang tim yang sebelumnya tampil cukup disiplin.
Erling Haaland menutup pesta gol City lewat aksinya di menit-menit akhir. Bagi penyerang asal Norwegia itu, gol tersebut punya arti khusus karena ia kini telah mencetak gol ke gawang seluruh 25 tim Premier League yang pernah dihadapinya. Sunderland menjadi nama terakhir yang “dicoret” dari daftar tersebut, melengkapi koleksi Haaland di kompetisi ini.
“Sejujurnya, saya lebih suka menang 1-0 daripada 5-3, tetapi saya memang sudah memperkirakan laga yang sangat sulit,” ujar Maresca. Ia menilai Sunderland bukan lawan yang mudah dibaca. “Saya tahu betapa bagusnya mereka, agresif tanpa bola, dan dengan bola mereka punya senjata berbeda, situasi bola mati, dan Brobbey,” tambahnya.
Start Sempurna Maresca di Kursi Manajer City
Maresca mengambil alih Manchester City pada musim panas dengan tugas yang tidak mengenakkan: menggantikan Pep Guardiola. Tekanan sempat mengarah padanya setelah City dipermalukan Arsenal asuhan Mikel Arteta di Community Shield pada Agustus. Namun, sejak titik terendah itu, City merespons dengan cara yang nyaris sempurna.
Rentetan tujuh kemenangan beruntun di semua kompetisi membuat posisi Maresca kokoh. Ia bahkan masuk ke buku catatan Premier League sebagai manajer keenam yang memenangi kelima laga pertamanya di sebuah klub, menyusul Carlo Ancelotti, Craig Shakespeare, Maurizio Sarri, dan Ole Gunnar Solskjaer. Nama lainnya adalah Guardiola, pendahulunya di City, ketika menangani klub itu pada 2016.
Bagi Maresca, nilai dari rentetan itu bukan sekadar jumlah kemenangan. Menurutnya, tujuh laga resmi yang sudah dijalani City semuanya menghadirkan situasi berbeda. “Saya senang karena kami menemukan cara untuk menang. Hal bagus lainnya adalah tujuh pertandingan resmi yang kami jalani semuanya berbeda, kami mengalami hal-hal yang berbeda pula. Pada laga terakhir kami bermain dengan sepuluh orang, dan hari ini terasa rumit; saat menghadapi Bournemouth kami tertinggal 1-0, jadi itu juga kesempatan untuk belajar dari pertandingan,” tuturnya.
Arsenal Terpeleset, City Mengambil Keuntungan
Kekalahan mengejutkan Arsenal di pantai selatan membuka jalan bagi City, dan mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kemenangan atas Sunderland membuat City memimpin klasemen dengan keunggulan tiga poin. Posisi itu terasa kian penting karena Arsenal sebelumnya dijagokan sebagai favorit kuat untuk mempertahankan gelar juara.
Mantan gelandang Liverpool, Charlie Adam, menilai awal musim City luar biasa meski masih ada ruang perbaikan. “Banyak yang masih harus dibenahi, tetapi mencetak lima gol di kandang dan menunjukkan level performa seperti itu adalah hal yang positif,” katanya kepada BBC Radio 5 Live. “Dengan Arsenal kalah pada Sabtu, City bisa masuk masa jeda di puncak klasemen, dan hari ini mereka melakukannya.”
Kebobolan Tiga Gol, Sinyal Peringatan bagi City
Sebelum menghadapi Sunderland, City hanya kebobolan dua gol dalam empat laga pertama Premier League. Namun pada Minggu, mereka kemasukan tiga gol dalam 90 menit, dan cara mereka kehilangan kendali atas pertandingan jelas menjadi perhatian Maresca. Dua dari tiga gol tersebut lahir dari situasi bola mati, sebuah celah yang tidak biasa bagi tim asuhannya.
Maresca mengakui dirinya selalu mencari celah untuk memperbaiki performa tim. “Saya selalu khawatir, selalu berusaha melihat apa yang bisa kami lakukan lebih baik. Dua dari tiga gol yang kami kebobolan terlalu mudah. Gol kedua berasal dari tendangan bebas cepat Xhaka dan itu tidak boleh terjadi. Gol ketiga datang dari tendangan bebas lagi, terlalu mudah,” ujarnya. Ia juga mencatat bahwa City sebenarnya tetap menciptakan banyak peluang dan bisa menambah dua hingga tiga gol lagi.
Adam melihat persoalan serupa dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, City perlu belajar mengendalikan ruang pada momen-momen tertentu, bukan tertarik ke sana kemari dalam duel satu lawan satu. “Mereka tidak bisa menjalani satu musim dengan bermain seperti itu,” katanya, meski ia tetap menilai adaptasi Maresca sebagai manajer baru berjalan positif.
Hat-trick Brobbey dan Rekor xG Sunderland
Penampilan Sunderland di laga ini layak mendapat perhatian tersendiri. Striker mereka, Brian Brobbey, merepotkan kapten City Ruben Dias sepanjang pertandingan dan mencetak hat-trick di Premier League. Namun karena timnya kalah, ia masuk ke dalam catatan yang tidak menyenangkan: hanya pemain keenam yang mencetak hat-trick tetapi berakhir di pihak yang kalah.
Statistik lain memperkuat betapa repotnya City malam itu. Expected goals (xG) Sunderland tercatat 4,25, angka tertinggi yang pernah dicatatkan tim tamu di Etihad Stadium dalam sebuah laga Premier League. Tim asuhan Regis le Bris bahkan bisa mencetak lebih dari tiga gol, sementara City tetap bersyukur karena mampu mencetak lebih banyak.
Ujian Berat Menanti di Kandang Liverpool
Setelah tiga pekan jeda internasional, City langsung menghadapi ujian berat. Mereka akan bertandang ke markas Liverpool pada Minggu, 11 Oktober, menghadapi tim yang sejauh ini belum terkalahkan. Laga itu akan menjadi tolok ukur nyata apakah start sempurna City bisa dipertahankan.
Adam menilai City berhak memasuki jeda dengan rasa percaya diri tinggi. Menurutnya, Maresca akan senang dengan bagaimana semuanya berjalan, termasuk kontribusi para pemain baru dan caranya beradaptasi sebagai manajer Manchester City. Ia menyebut semua ini memberi “perasaan positif yang nyata” dan City “bisa menuju jeda internasional ini dengan kebanggaan yang nyata”.
Dalam rentang 24 jam, City mengubah peta persaingan gelar: Arsenal tergelincir, City memimpin klasemen, dan catatan sempurna mereka di lima laga pertama Premier League menempatkan Maresca sejajar dengan sejumlah nama besar. Kemenangan 5-3 atas Sunderland memang tidak selalu rapi, tetapi hasilnya tetap tiga poin yang menempatkan City di posisi yang mereka inginkan.
Yang tersisa sekarang adalah pembuktian. Perjalanan ke markas Liverpool setelah jeda internasional akan menunjukkan apakah start sempurna City sekadar soal hasil, atau memang tanda kekuatan yang sesungguhnya. Jika lini belakang mampu lebih terkendali tanpa mengorbankan ketajaman lini serang, tekanan yang kini mereka berikan kepada Arsenal bisa bertahan jauh lebih lama.