Thomas Tuchel dan Progres Timnas Inggris Menuju Euro 2028

Keraguan terhadap Thomas Tuchel sebaiknya mulai dikesampingkan. Dalam sepekan terakhir, ia memperlihatkan bahwa dirinya bukan sekadar sosok yang mampu menyusun daftar pemain, melainkan juga bisa merancang cara bermain Timnas Inggris yang terlihat meyakinkan. Kemenangan besar atas Kroasia di Rijeka menjadi penanda bahwa proses yang ia bangun mulai menunjukkan hasil, dan target besarnya sudah jelas: Euro 2028 yang akan digelar di Inggris sendiri.

Posisi manajer Timnas Inggris selama ini memang menuntut dua hal sekaligus yang jarang dialami negara lain. Seorang pelatih tidak hanya harus memilih pemain dengan tepat dan mengambil keputusan berisiko tinggi saat pergantian babak kedua, tetapi juga dituntut menjawab pertanyaan identitas: siapa kita dan bagaimana seharusnya kita bermain. Beban ganda inilah yang membuat kursi itu selalu memakan penghuninya, sehingga para pelatih berakhir kelelahan dan terkuras habis, seperti sebuah tracksuit kosong yang menyerah di toilet Wembley. Karena itu, perkembangan yang ditunjukkan Tuchel belakangan ini terasa melegakan, terutama saat ia terlihat kembali bergelora di pinggir lapangan dengan sepatu dan celana hitamnya.

Kemenangan 7-0 atas Kroasia dan Atmosfer Rijeka yang Aneh

Di Rijeka, Tuchel tampak dikuasai energi yang sudah akrab baginya. Ia masih berkeliling di pinggir lapangan, kadang terlihat seperti bangsawan kelaparan yang sedang mengajak anjing-anjingnya jalan-jalan, namun diam-diam sedang memecahkan kode Enigma di gubuk berburunya. Rasanya berlebihan bila mengatakan Tuchel kini benar-benar aman dalam posisinya, sebab anggapan bahwa ia sedang dalam bahaya memang terkesan histeris. Faktanya, Tuchel tidak pernah benar-benar bermasalah, tetapi begitulah watak pekerjaan ini: hanya perlu beberapa kekalahan cepat untuk berayun dari kejayaan luar biasa menuju pemecatan yang nyaris instan.

Kita tentu perlu menjaga rasa proporsional setelah beberapa kemenangan di ajang Nations League melawan lawan yang kekuatannya tidak sepadan. Kemenangan 7-0 atas Kroasia sejak awal memang terasa sebagai peristiwa yang janggal. Sejak pintu-pintu stadion dibuka, seluruh suasana berubah seperti pesta olahraga sebuah klub remaja, di mana semua orang dapat medali di akhir acara dan para guru menampilkan tarian disko. Atmosphir itu seolah menular kepada para pemain Kroasia, yang bahkan saat pemanasan tampak santai dan penuh canda, disemangati kelompok ultras junior bersuara melengking, dan digempur versi Kroasia dari lagu “We Didn’t Start the Fire” melalui sistem pengeras suara yang memekakkan telinga.

Sejak menit pertama, Kroasia bermain seperti tim yang baru pulih dari dosis tablet tidur herbal. Setiap sentuhan Luka Modric disambut sorak yang biasanya hanya terdengar ketika sebuah boyband Korea tampil di acara peluncuran Apple Store, tetapi salah satu pemain terbaik generasi ini justru dilibas oleh lini tengah Inggris yang muda dan lapar. Kroasia memang cukup layak di Piala Dunia, namun pertandingan ini datang pada momen yang sangat vital dalam era baru bersama Tuchel. Dua puluh bulan ke depan pada dasarnya adalah penentu segalanya, ruang di mana Tuchel menentukan seberapa baik timnya bisa tampil menuju turnamen yang peluang juaranya tidak akan pernah lebih besar bagi Inggris.

Pertanyaan yang benar-benar penting saat ini hanya dua: apakah sudah ada visi tentang tim dan cara bermainnya, dan apakah ada kemajuan ke depan? Jawaban untuk keduanya adalah ya. Itulah yang membuat pekan ini terasa berbeda dari sekadar hasil semata.

Proses Thomas Tuchel dan Rekonsiliasi dengan Warisan Southgate

Inggris tampil bagus dengan cara yang menarik saat menghadapi Kroasia. Kita sudah terbiasa melihat tim Inggris yang tampak kuat tetapi juga penuh cela. Di Rijeka, mereka justru terlihat seperti semifinalis Piala Dunia yang berhasil mengubah pengalaman itu menjadi peningkatan, kuat di semua area, baik secara fisik, teknis, maupun dalam keseimbangan dasarnya. Kesan itulah yang membuat banyak orang mulai menaruh harapan pada arah baru Timnas Inggris.

Pada beberapa momen di era ini, Inggris mengingatkan pada tim Gareth Southgate antara 2019 hingga 2020, ketika sejumlah pemain kunci baru masuk ke lingkungan yang sedang berkembang, dan tiba-tiba mereka mengalahkan lawan-lawan kelas menengah dengan mudah. Jeda pandemi Covid-19 kemudian mempersulit kelanjutan jalur tersebut. Ada satu kontrafaktual yang tak bisa dibuktikan: bila Euro pertama Southgate dimajukan setahun, bukan tidak mungkin Inggris punya momentum untuk mengalahkan Italia di final.

Ada dua aspek pada Timnas Inggris asuhan Tuchel kali ini. Pertama, penyelesaian atas kesalahan-kesalahan di masa lalu. Mengapa ia tidak membawa Cole Palmer? Mungkin alasannya sama dengan mengapa Palmer tak ada di sini sekarang. Lalu mengapa ia tidak memilih Phil Foden? Pertanyaan itu juga telah menjawab dirinya sendiri. Hal serupa berlaku untuk keputusan tidak memilih striker cadangan yang ternyata kini bermain di Arab Saudi. Tetap sah-sah saja untuk tidak setuju, tetapi kini terasa lebih jelas bahwa ada logika dan alasan di baliknya.

Elemen kunci kedua adalah rasa kemajuan. Ini memang selalu wajar terjadi, sebab seorang pelatih butuh waktu untuk mengenal para pemainnya. Tuchel bahkan belum pernah mengikuti turnamen internasional sebelumnya, dan ia sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi spesialis laga gugur seperti yang diasumsikan banyak orang — cukup lihat rekam jejaknya. Ia adalah sosok yang mengandalkan proses, dan sekarang kita berada tepat di tengah-tengah proses itu.

Analisis: Bellingham sebagai Pusat, Keseimbangan, dan Identitas Permainan

Langkah paling mencolok yang berubah adalah menjadikan Jude Bellingham sebagai poros tim, dan ini ide yang sangat bagus, bukan hanya karena bakatnya yang luar biasa. Menggalang kekuatan di sekitar Bellingham adalah versi Tuchel dari unicorn karet di era Southgate, obrolan tentang pesawat Spitfire, dan hari-hari latihan bersama pasukan khusus. Bagaimana membuat para pemain ingin bermain untuk Inggris? Ini jalannya: beri mereka aura, kekuatan merek, dan magnetisme. Tempatkan sosok besar di tengah. Semua orang akan ikut tampil bila Jude senang, dan selama dua pekan mereka punya peluang hidup di dalam medan pengaruhnya.

Ada pula soal cara Inggris bermain. Selalu ada pembicaraan tentang “gaya Premier League”, padahal itu tidak pernah menjadi satu hal tunggal. Namun para pemain ini jelas paling cocok dengan sepak bola berintensitas tinggi, penuh lari, dan keras dalam duel. Hal itu terlihat saat Inggris berhasil mengalahkan Mateo Kovacic yang mulai menua, pemain yang bahkan di masa jayanya tampak seperti anak Victoria yang rapuh namun menyamar sebagai gelandang elite modern. Inggris juga bermain seperti itu selama setengah jam melawan juara dunia, dan hanya kalah tipis setelah tertinggal 1-0 pada menit pertama serta gagal mengeksekusi penalti di akhir laga. Ini terasa seperti versi yang lebih matang dari intensitas “packet-ball” yang sempat menggulung Kroasia selama 20 menit di Piala Dunia, tetapi setelah itu tidak pernah benar-benar kembali menyatu. Euro berikutnya digelar di Inggris, jadi bila saja gelombang panas dapat dibatalkan, mereka bisa bermain seperti ini lebih lama.

Selain itu ada persoalan keseimbangan. Lewis Hall tampil sebagai bek kiri sejati dengan kaki kiri alami. Jarell Quansah kini sangat masuk akal, karena ia menawarkan atletisme pemulihan gaya Kyle Walker. Alex Scott terlihat sangat baik di Rijeka, kehadiran gelandang yang cerdas, selalu mendongak, dan mendobrak ke depan. Tuchel benar: ia tidak bisa masuk turnamen hanya dengan dua gelandang pilihan utama, dan Scott menawarkan sesuatu yang berbeda tepat di area yang membuat Inggris kehilangan laga-laga berintensitas tinggi. Bahkan kini ia sudah tahu siapa striker cadangannya, dan sudah pasti jawabannya adalah Jude.

Konteks Lebih Luas: Menuju Euro 2028 dan Apa yang Masih Kurang

Ada satu lagi kontrafaktual yang tak bisa dibuktikan: Inggris mungkin akan mengalahkan tim Argentina di Atlanta bila memakai kekuatan tim di Rijeka ini. Hal itu sebaiknya tidak menjadi sumber kekecewaan yang berkepanjangan, sebab yang lebih penting adalah momentum ke depan, mempelajari pola baru, dan menambahkan trik baru. Dengan menempatkan Bellingham di depan pada babak kedua dan memasukkan Scott ke lini tengah bertiga, peluang Inggris menuntaskan laga seperti itu menjadi jauh lebih besar.

Prosesnya sendiri masih jauh dari selesai. Inggris masih membutuhkan persaingan di sisi sayap kanan, karena Bukayo Saka adalah pesepak bola hebat tetapi bukan sosok yang ditakuti lawan. Bila menambahkan pemain sekelas Michael Olise dalam kondisi terbaiknya, misalnya, ancaman tim ini akan terlihat jauh berbeda. Max Dowman untuk saat ini masih sebatas gagasan yang menarik, tetapi waktu masih ada, dan ia tidak perlu langsung tampil sempurna.

Terakhir, kembali ke figur sentral dalam siklus ini, ada proses menjadikan Bellingham sebagai senjata utama. Perannya di tim kini terjelas dengan indah: tempatkan ia di area depan, dan ia tetap akan menekan, mengganggu, serta memberi fungsi bertahan. Namun ketika ia berputar, berlari, menembus transisi, dan melepas umpan kreatif yang berisiko, ia adalah pesepak bola kelas atas. Ia sekaligus menjadi pernyataan misi satu orang tentang cara tim ini ingin bermain.

Kesimpulan

Turnamen tidak pernah dimenangkan hanya dengan kemenangan 7-0 di pesisir Adriatik di depan sekitar 6.000 anak sekolah yang kelebihan kafein. Namun di situlah letak pentingnya: ada kemajuan nyata dalam cara Timnas Inggris bermain dan menyusun kekuatan di bawah Thomas Tuchel. Keraguan yang selama ini menyelimuti pelatih asal Jerman itu perlahan kehilangan dasarnya, karena pertanyaan soal visi dan arah tim sudah mulai terjawab.

Dengan Bellingham sebagai poros, keseimbangan yang mulai terbentuk, serta munculnya pemain-pemain baru yang menawarkan solusi berbeda, fondasi menuju Euro 2028 semakin masuk akal. Prosesnya belum tuntas dan masih ada sejumlah celah, terutama di sisi sayap kanan. Tetapi bila Inggris terus bergerak dengan tempo seperti ini, waktu yang tersisa menuju turnamen di kandang sendiri akan berlalu dalam sekejap — dan tidak ada yang mau menyia-nyiakannya.