Side Hustle Pemain NWSL: Dulu Bertahan, Kini Berdaya

Side hustle pemain NWSL kini bukan lagi soal bertahan hidup, melainkan soal pilihan dan pengembangan diri. Gelandang Chicago Stars, Bea Franklin, menjadi salah satu contohnya: pada suatu malam musim dingin di Ketchum, Idaho, ia menjalani aksi fisik yang jauh berbeda dari kebiasaannya di lapangan. Di bawah pandangan hewan-hewan hasil taksidermi di Pioneer Saloon, perempuan 25 tahun itu dengan cekatan menyeimbangkan martini sebagai pramusaji koktail, mengenakan sepatu bot koboi, dan memastikan buah zaitun tak menetes saat ia menuruni tangga.

Franklin tidak mengambil pekerjaan sampingan itu karena kebutuhan mendesak. Ia melakukannya agar bisa memikirkan hal lain di luar sepak bola yang selama ini mendominasi hidupnya. Perubahan ini menandai babak baru bagi liga sepak bola putri profesional Amerika Serikat, hanya sekitar lima tahun setelah para pemainnya harus berjuang keras sekadar untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Dari Keterpaksaan Menjadi Pilihan

Bagi Franklin, menjadi pramusaji koktail di kota resor ski Pegunungan Rocky adalah pengalaman yang menyenangkan. Ia menyebut pekerjaan itu sebagai cara yang sangat baik untuk melepaskan diri sejenak dari sepak bola. Yang menarik, belum sampai setengah dekade lalu, pemain seperti dirinya — atlet 25 tahun yang kini memasuki musim profesional ketiga — mungkin harus mengambil pekerjaan semacam itu hanya demi bertahan hidup.

Franklin juga sempat bekerja di Bank of America pada musim lalu sebagai analis manajemen kekayaan. Ia bekerja pada sore hari setelah latihan dan pada hari-hari liburnya, membantu mengelola investasi sejumlah klien yang sangat kaya. Meski mengaku tidak berada di bracket penghasilan tersebut, ia menilai keterampilan yang dipelajarinya tetap berguna bagi orang seperti dirinya.

“Itu memberi penerapan dunia nyata tentang bagaimana orang mendapatkan kredit dan benar-benar menjalani proses perbankan,” ujarnya. Ia menambahkan, kini dirinya lebih sabar terhadap orang di seberang telepon, karena ia pernah berada di posisi itu. Sebelum terjun ke dunia profesional, Franklin menempuh studi keuangan di University of Arkansas.

Jejak Kelam di Balik Kampanye “No More Side Hustles”

Lima tahun lalu, para pemain NWSL mengorganisasi kampanye bertajuk “No More Side Hustles”. Kampanye ini menyoroti rendahnya bayaran di liga dan kebutuhan para pemain untuk mengambil pekerjaan kedua, di tengah jadwal padat sebagai atlet profesional penuh waktu. Saat itu, sepertiga anggota Asosiasi Pemain NWSL (NWSLPA) menerima gaji minimum liga sebesar 22.000 dolar AS, sementara 75 persen di antaranya berpenghasilan 31.000 dolar AS atau kurang.

Realitas itu tergambar dari kisah sejumlah nama besar. Jessica McDonald, peraih gelar juara dunia, harus bekerja di Amazon mengepak kotak selama 10 jam sehari sambil memimpin sesi latihan untuk pemain muda pada malam hari. Kristen Hamilton, yang telah tiga kali menjuarai liga, mengaspal sebagai pengemudi DoorDash. Pemain lain membersihkan rumah, bekerja sebagai resepsionis, atau mengepel lantai.

Persoalan itu akhirnya ditangani liga secara signifikan. NWSLPA menyepakati perjanjian kerja bersama (CBA) pertama dengan liga pada 2022. Di bawah CBA yang berlaku saat ini dan dicapai pada 2024, gaji minimum pemain untuk musim 2026 adalah 50.500 dolar AS — angka yang hampir setara dengan gaji maksimum pada 2021, yaitu 52.500 dolar AS.

Dengan jaminan penghasilan yang layak, para pemain kini bebas mengejar minat akademik, profesional, dan kewirausahaan. Bukan lagi karena keharusan, melainkan karena keinginan.

Sepak Bola Tak Lagi Menjadi Satu-satunya

Bek Washington Spirit, Gabrielle Carle, tengah bersiap menjadi dokter setelah karier bermainnya berakhir. Ia sempat berpikir untuk menjalani keduanya sekaligus, namun menyadari bahwa itu terlalu ambisius, bahkan untuk dirinya sendiri. “Saya berpikir, ‘Oh, ini akan rumit. Keduanya tidak benar-benar bisa berjalan bersamaan,'” ujarnya.

Kendati begitu, Carle tak surut. Sepanjang musim 2025 — musim terbaiknya sebagai bek sayap asal Quebec itu — ia belajar untuk tes MCAT dan kemudian mengikuti ujian tersebut pada Januari. Perempuan 27 tahun itu menyebut dirinya lolos dengan skor yang ia harapkan dan berencana memanfaatkan jendela tiga tahun untuk menggunakan skor tersebut dalam pendaftaran sekolah kedokteran.

“Saya akan berusia 30 tahun. Saya bisa memutuskan apakah ini waktu yang tepat untuk pensiun atau tetap melanjutkan,” kata Carle. Ia menambahkan, bila memilih pensiun dari sepak bola, skor itu sudah ada sehingga ia dapat segera melangkah ke babak berikutnya dalam hidupnya. Meski masih ada beberapa tahun sebelum keputusan soal sekolah kedokteran, Carle menikmati kesempatan menjaga dirinya dalam apa yang ia sebut “mode pintar”, dengan melamar posisi yang memungkinkannya meneliti kedokteran olahraga.

Carle bukan satu-satunya pemain yang menyeimbangkan laporan pemanduan bakat dengan buku pelajaran. Rekannya di Washington Spirit, Lucia Di Guglielmo, meraih gelar master di bidang kimia industri. Di Inggris, kapten Chelsea Erin Cuthbert telah meraih gelar MBA, sementara kiper Manchester United Phallon Tullis-Joyce memanfaatkan gelar biologi kelautannya dengan menggelar lokakarya bagi pelajar di kebun binatang setempat.

Kemitraan NWSL dengan Syracuse University

Tahun ini, NWSL dan Syracuse University meluncurkan kemitraan yang memungkinkan pemain menempuh gelar dan sertifikat secara daring. Program yang ditawarkan beragam, mulai dari analitik olahraga dan keamanan siber hingga manajemen bisnis dan akuntansi. Langkah ini menegaskan bahwa pengembangan diri di luar lapangan kini menjadi bagian dari ekosistem liga, bukan lagi urusan pribadi yang harus diperjuangkan sendirian.

Dari Lapangan ke Dunia Bisnis

Sejumlah pemain melangkah lebih jauh dengan membangun usaha sendiri. Musim panas ini, dua pemain NWSL yang memperkuat tim nasional Kanada meluncurkan bisnis: penyerang Chicago, Jordyn Huitema, mendirikan Jordyskin, sebuah lini perawatan kulit, dan bek Denver Summit, Janine Sonis, menciptakan 90Brew, merek kopi spesialti.

Kopi memang menjadi titik awal yang kerap dipilih pesepak bola yang ingin berwirausaha. Cuthbert memiliki merek kopi bernama Ruby Alba, legenda Inggris Jill Scott mendirikan kedai kopi Boxx2Boxx di Manchester, dan sejumlah rekan setim di Kansas City Current membuka Pitchside Coffee.

Sonis meluncurkan bisnisnya justru di tengah musim terbaiknya di lapangan, ketika ia mencetak sembilan gol untuk Denver Summit pada musim perdana klub tersebut. Bulan ini, 90Brew mulai menerima pesanan pertamanya. Sonis menyebutnya sebagai bagian dari proses bergejolak selama 18 bulan yang berkaitan dengan masalah yang membekas di awal karier sepak bola profesionalnya.

“Saya sebenarnya mulai minum kopi karena, lucunya, saya tidak bisa tetap terjaga,” ujar Sonis. Sebagai penggemar kopi berat, ia mengikuti jejak suaminya, Ethan, yang memulai bisnis pelatihan atletik pada 2018. Percakapan bercanda dengan seorang teman setelah musim 2024 berubah menjadi serius ketika suaminya bertanya mengapa ia tidak langsung saja memulai usaha tersebut.

Dukungan Klub dan Simbol Perubahan Zaman

Sonis cepat mengapresiasi jaringan dukungan yang ia miliki saat merintis usaha. Berbeda dari masa ketika klub bersikap acuh, bahkan bermusuhan, kepada pemain sebelum liga melakukan reformasi besar, ia menyebut klubnya sangat mendukung. Kebetulan pula, Denver Summit dan 90Brew sama-sama mengusung nuansa hijau yang serupa.

“Kami memilih warna-warna itu sebelum logo Summit keluar, yang sungguh lucu dan rasanya memvalidasi apa yang kami lakukan,” kata Sonis. Ia mengaku terkejut saat logo klub akhirnya dirilis. “Saya ingat momen logo Summit keluar dan saya berpikir, ‘Kamu bercanda ya.'”

Sonis, 32 tahun, kini berjarak satu dekade penuh dari debutnya di NWSL. Ia mengenal betul masa-masa kelam ketika pekerjaan sampingan menjadi keharusan. Baginya, ini adalah momen yang melengkapi lingkaran sekaligus tanda seberapa jauh liga telah berkembang.

Arah Baru Side Hustle Pemain NWSL

Perubahan ini tidak sekadar soal angka gaji. Ketika pemain tidak lagi dipaksa mencari penghasilan tambahan demi bertahan hidup, mereka punya ruang untuk membangun keterampilan, jaringan, dan identitas di luar sepak bola. Hal itu pada gilirannya dapat memperkuat mereka sebagai atlet sekaligus menyiapkan masa depan setelah pensiun.

Sonis sendiri menyebut perubahan ini sebagai lompatan besar. “Bahkan di masa yang tidak terlalu jauh dari sekarang, sungguh gila bahwa orang harus punya dua pekerjaan dan gaji NWSL mereka tidak cukup untuk menunjang hidup tanpa melakukan hal lain,” ujarnya. “Dan sekarang saya di sini bisa menopang diri saya melalui beberapa usaha karena arah perkembangan permainan ini.”

Dari gambaran tersebut, terlihat bahwa makna pekerjaan sampingan bagi para pemain telah bergeser. Apa yang dulu menjadi simbol keterpaksaan kini menjelma menjadi tanda kebebasan, peluang, dan persiapan masa depan. Tren ini memperlihatkan bahwa sepak bola putri, setidaknya di NWSL, mulai memberi ruang bagi pemainnya untuk tumbuh sebagai pribadi yang utuh, bukan hanya sebagai atlet.

Perjalanan NWSL dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang besar. Dari pemain yang harus mengepak kotak di Amazon dan mengantar pesanan makanan demi bertahan hidup, kini mereka bisa memilih jalan akademik, profesional, maupun wirausaha atas keinginan sendiri. Kenaikan gaji minimum dari 22.000 dolar AS menjadi 50.500 dolar AS menjadi fondasi penting bagi pergeseran itu.

Kisah Bea Franklin, Gabrielle Carle, hingga Janine Sonis adalah potret era baru para pesepak bola putri. Side hustle pemain NWSL hari ini bukan lagi soal bertahan hidup, melainkan soal membangun masa depan — baik di dalam maupun di luar lapangan.