Protes Fans Celtic: Dermot Desmond Diusir dari Lapangan Golf

Pemegang saham terbesar Celtic, Dermot Desmond, menjadi sasaran protes fans Celtic dalam gelaran turnamen golf Alfred Dunhill Links di St Andrews. Aksi itu dilakukan dengan melemparkan bola tenis ke arahnya saat ia berada di area permainan, sehingga pria berusia 76 tahun tersebut akhirnya harus dikawal keluar dari lapangan oleh petugas keamanan. Insiden ini menjadi salah satu bentuk tekanan paling terbuka yang pernah dialamatkan langsung kepada pemilik modal utama klub Scottish Premiership itu.

Desmond bukan sosok biasa dalam struktur kepemilikan Celtic. Ia adalah pemegang saham individu terbesar di klub tersebut, dan dalam beberapa musim terakhir namanya kerap dikritik karena dianggap menjadi bagian dari masalah yang membuat klub jalan di tempat. Kritik itu tidak hanya menyangkut hasil di lapangan, tetapi juga sepak terjang Celtic di kompetisi Eropa dan kebijakan transfer yang dinilai kurang meyakinkan. Ketegangan yang sudah lama menumpuk inilah yang kemudian meledak dalam aksi di lapangan golf, bukan di tribun stadion sebagaimana biasa terjadi.

Dermot Desmond

Kronologi Protes Fans Celtic di Hole 15

Aksi protes berlangsung di hole ke-15 kompetisi pro-am Alfred Dunhill Links yang digelar di St Andrews. Bola-bola tenis yang sudah diberi gambar wajah Desmond dengan tanda silang di atasnya dilemparkan ke arah green tempat ia berada. Gambar-gambar yang beredar setelah kejadian memperlihatkan Desmond dalam kondisi harus dievakuasi dari lapangan dengan pengawalan pihak keamanan.

Pemilihan lokasi dan momen protes tampaknya bukan kebetulan. Turnamen golf pro-am adalah ajang yang mempertemukan kalangan berada dengan publik luas, sehingga aksi di tempat seperti itu lebih mudah menarik perhatian media dibandingkan demonstrasi di depan stadion. Dengan melempar bola tenis bergambar wajahnya, para pengunjuk rasa menyampaikan pesan yang sangat personal dan langsung tertuju pada satu orang, bukan pada institusi klub secara umum.

Hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban luka dalam insiden tersebut, dan Desmond dapat meninggalkan area permainan dengan pengawalan. Meski demikian, peristiwa ini menandai eskalasi baru dalam cara sebagian suporter menyuarakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan klub.

Pernyataan Celtic Fans Collective dan Tuntutan Akuntabilitas

Kelompok yang menamakan diri Celtic Fans Collective mengaku bertanggung jawab atas aksi tersebut. Mereka merilis pernyataan resmi lengkap dengan rekaman video serta foto-foto dari lokasi kejadian. Dalam pernyataannya, kelompok ini menegaskan bahwa aksi itu adalah cara untuk menyampaikan pesan yang selama ini dianggap tidak didengar melalui jalur-jalur biasa.

“Dermot Desmond pada dasarnya dibiarkan menjalankan Celtic Football Club sambil menggunakan kekayaannya untuk menghindari suporter dan akuntabilitas,” demikian bunyi pernyataan mereka. “Fans memanfaatkan kesempatan hari ini untuk mengirim pesan bahwa pengaturan seperti ini tidak bisa terus berlanjut.”

Pernyataan itu memuat dua tuduhan utama: pertama, bahwa Desmond memiliki pengaruh besar terhadap arah klub, dan kedua, bahwa ia dianggap tidak mau mempertanggungjawabkan pengaruh tersebut di hadapan pendukung. Kata “akuntabilitas” menjadi inti seruan mereka, karena suporter merasa tidak punya saluran efektif untuk mempertanyakan keputusan-keputusan penting di klub.

Latar Belakang Ketegangan Fans dan Manajemen Celtic

Ketidakpuasan terhadap Desmond sebenarnya sudah menahun dan terakumulasi dari sejumlah peristiwa. Setelah Brendan Rodgers mengundurkan diri pada awal musim lalu, Desmond justru menuding mantan manajer itu sebagai penyebab utama berbagai persoalan yang mewarnai awal kampanye 2025-26. Sikap tersebut memancing reaksi keras dari sebagian suporter yang menilai manajemen kurang mau melihat ke dalam.

Puncak ketegangan sebelumnya terjadi pada rapat umum tahunan atau AGM Celtic bulan November lalu. Forum itu sampai harus dibatalkan karena kericuhan yang melibatkan suporter. Dalam kesempatan tersebut, putra Desmond, Ross, membacakan pernyataan atas nama ayahnya karena sang pemegang saham utama tidak hadir langsung.

Dalam pernyataan itu, Ross membela ayahnya sebagai pendukung Celtic yang “seumur hidup dan penuh gairah”. Ia juga bersumpah bahwa jajaran direksi tidak akan “digertak oleh kritik yang agresif dan irasional”. Desmond lewat pernyataan tersebut turut membela ketua klub saat itu, Peter Lawwell, dan CEO Michael Nicholson, dengan menyebut upaya untuk “menghilangkan sisi kemanusiaan dan mencaci mereka adalah hal yang memalukan”.

Ia pun menyinggung segelintir suporter terkait insiden yang berujung pada larangan bagi kelompok ultras Green Brigade. Dalam pernyataan itu, Desmond menyebut pihak-pihak tersebut dengan kalimat tegas: “Orang-orang itu adalah pembuli.”

Kenapa Kritik Terus Mengarah ke Dermot Desmond

Sebagai pemegang saham individu terbesar, Desmond dianggap memegang pengaruh yang jauh melampaui besaran kepemilikan sahamnya. Bagi banyak suporter, posisi itu membuatnya sulit dilepaskan dari setiap keputusan strategis klub, mulai dari perekrutan pemain hingga arah kebijakan olahraga. Karena itu pula kritik terhadap performa tim sering kali berujung pada satu nama, bukan pada jajaran pelatih atau pemain saja.

Dua keluhan yang paling sering muncul adalah minimnya kemajuan Celtic di kompetisi Eropa dan bisnis transfer yang dinilai kurang greget. Keduanya dianggap sebagai cerminan dari cara klub dijalankan: cukup kuat untuk mendominasi di dalam negeri, tetapi tidak cukup ambisius untuk melangkah lebih jauh di panggung Eropa. Ketika hasil di lapangan tidak berubah, tuntutan akuntabilitas pun mengarah ke ruang rapat pemegang saham.

Masalahnya, suporter merasa saluran formal untuk menyampaikan aspirasi justru menutup diri. AGM yang berakhir ricuh dan pernyataan direksi yang menyebut kritik sebagai “agresif dan irasional” memperkuat kesan bahwa manajemen memilih bertahan di belakang tembok, bukan membuka dialog. Dari perspektif pengunjuk rasa, aksi di lapangan golf adalah cara memaksa percakapan itu masuk ke ruang publik.

Apa Arti Protes Ini bagi Hubungan Klub dan Suporter

Insiden di St Andrews menunjukkan pergeseran cara sebagian fans Celtic menyampaikan pendapat. Jika sebelumnya ketidakpuasan disalurkan lewat pernyataan, selebaran, atau bendera di stadion, kini tekanan diarahkan langsung ke ruang pribadi sang pemilik modal. Pola semacam ini juga terlihat di sejumlah klub Eropa lain, tempat suporter mulai membidik figur pemilik sebagai sasaran utama protes.

Bagi pihak manajemen, kejadian ini memperbesar risiko bahwa setiap penampilan publik pemegang saham bisa berubah menjadi panggung demonstrasi. Sikap direksi yang menolak “digertak” kritik berpotensi berbenturan dengan makin beraninya kelompok suporter mengambil aksi langsung. Dalam situasi seperti itu, ruang tengah untuk berdialog akan semakin sempit jika tidak ada inisiatif dari kedua belah pihak.

Sejauh mana aksi ini akan berlanjut masih belum jelas. Yang bisa dipastikan, isu kepemilikan dan akuntabilitas kini menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan seputar Celtic, sejajar dengan pembicaraan soal performa tim di lapangan.

Penutup

Protes fans Celtic terhadap Dermot Desmond di Alfred Dunhill Links menandai babak baru dalam hubungan suporter dan pemilik klub. Lewat lemparan bola tenis bergambar wajah yang disilang, Celtic Fans Collective menyampaikan pesan bahwa pengaruh besar tanpa pertanggungjawaban tidak lagi bisa diterima begitu saja. Insiden itu adalah kelanjutan dari ketegangan yang sudah muncul sejak mundurnya Rodgers, AGM yang dibatalkan, hingga larangan bagi kelompok ultras Green Brigade.

Bagi Celtic, persoalannya kini bukan sekadar hasil di lapangan atau kebijakan transfer, melainkan bagaimana membangun kembali kepercayaan dengan pendukungnya. Selama jurang antara direksi dan tribun tidak dijembatani, aksi-aksi serupa berpotensi kembali muncul di tempat dan waktu yang tidak terduga.