Dan Burn: Kekalahan Semifinal Piala Dunia 2026 Akan Menghantui Saya

Pernyataan Dan Burn Usai Kekalahan Pahit Inggris

Kekalahan Inggris semifinal Piala Dunia 2026 dari Argentina meninggalkan luka mendalam bagi para pemain, terutama bek Newcastle United, Dan Burn. Masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua saat Inggris unggul 1-0, Burn tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Saya benar-benar hancur,” katanya kepada media usai pertandingan.

Menurut Burn, timnya sudah menjalankan rencana permainan dengan baik. Namun setelah unggul, mereka justru bermain terlalu pasif. “Kami kebobolan terlalu banyak umpan silang dan memberi terlalu banyak peluang. Saat melawan tim sekelas Argentina, itu akan berakibat fatal. Kekalahan ini akan menghantui saya untuk waktu yang lama,” ujarnya.

Kronologi Pertandingan Inggris vs Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026

Laga yang digelar di Atlanta itu berjalan sengit. Inggris unggul lebih dulu pada menit ke-55 melalui Anthony Gordon yang memanfaatkan umpan Morgan Rogers. Namun Argentina berbalik menekan dan mencetak dua gol di akhir laga: Enzo Fernandez pada menit ke-83 dan Lautaro Martinez di menit kedua injury time. Hasil ini membuat Inggris gagal mencapai final Piala Dunia putra pertama sejak 1966.

Ini menjadi kali kedua dalam delapan tahun terakhir Inggris kalah di semifinal Piala Dunia – sebelumnya mereka takluk dari Kroasia pada 2018. Kekalahan Inggris semifinal Piala Dunia 2026 ini terasa lebih pahit karena mereka hanya berjarak 10 menit dari tiket final.

Penyebab Kekalahan: Pasif dan Gagal Bertahan

Pelatih Thomas Tuchel mengakui timnya kehilangan kendali setelah unggul. “Kami tidak cukup fisik, kalah dalam duel, dan tidak bisa menguasai bola. Momentum sepenuhnya berbalik,” jelas Tuchel kepada BBC Radio 5 Live. Menurutnya, pertahanan Inggris yang sebelumnya solid justru “runtuh” saat menghadapi tekanan Argentina.

Tuchel juga menyoroti mentalitas pemain. Keyakinan dan kepercayaan diri setelah unggul 1-0 tidak tampak. Argentina bermain tanpa beban dan mengambil risiko penuh. “Kami pasif dan tidak bisa menghentikan umpan silang serta pergerakan mereka di kotak penalti,” tambahnya.

Reaksi Pemain Lain: Kane dan Bellingham Juga Kecewa

Kapten Inggris Harry Kane, yang telah mencetak enam gol di turnamen ini, menggambarkan rasa sakit yang sama. “Tidak banyak yang bisa dikatakan. Semua orang hancur. Saat Anda begitu dekat, 10 menit lagi, dan gelar itu lepas, itu sangat menghancurkan,” katanya. Kane menekankan bahwa Inggris kesulitan menjaga bola dan memberi tekanan setelah unggul, yang menjadi kelemahan berulang dalam empat hingga lima turnamen terakhir.

Sementara itu, Jude Bellingham juga tak kuasa menahan kekecewaan. “Saya sangat bangga dengan rekan setim. Namun, semakin indah perjalanannya, semakin memilukan akhirnya. Saya ingin menjadi bagian dari tim yang akhirnya menang, tapi sekarang harus mengatakan hal yang sama yang sudah didengar fans bertahun-tahun,” ucap pemain Real Madrid tersebut.

Masa Depan Inggris: Tuchel Tetap Dipercaya, Target Euro 2028

Meski gagal, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dilaporkan tetap mendukung Tuchel dan ia diperkirakan akan menangani tim hingga Euro 2028. Tuchel sendiri mengaku masih percaya timnya bisa memenangi turnamen besar. “Ya, tentu kami mampu, meski saat ini saya belum punya buktinya. Kekalahan besar harus dihadapi dengan hormat, dicerna, dan tetap bersatu. Kami merasa sangat dekat, tetapi Argentina menunjukkan kesenjangan di 30 menit terakhir,” ujarnya.

Inggris akan menjadi tuan rumah bersama Euro 2028 dan harus melupakan kekalahan ini dengan cepat. Langkah terdekat adalah laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis yang akan disiarkan langsung BBC.

Kesimpulan: Penderitaan yang Berulang bagi Inggris

Kekalahan Inggris semifinal Piala Dunia 2026 menambah panjang daftar kekecewaan timnas putra. Sejak 1966, mereka belum pernah merasakan final Piala Dunia, dan dalam dua edisi terakhir selalu terhenti di semifinal. Ditambah kekalahan di final Euro 2021 dan 2024, tekanan untuk mengakhiri puasa gelar semakin besar. Bagi Dan Burn, Harry Kane, dan seluruh skuad, kenangan pahit di Atlanta ini akan sulit dilupakan.

Meski begitu, semangat juang tetap ada. Seperti kata Burn: “Saya tetap bangga dengan apa yang kami capai di Piala Dunia ini. Tidak banyak yang memberi kami kesempatan, dan jujur saya pikir kami bisa melakukannya.” Kini, Inggris harus bangkit dan belajar dari kegagalan ini untuk menatap turnamen berikutnya.