Perebutan Gelar Premier League: Hanya Arsenal dan Man City?

Perebutan gelar Premier League musim ini baru berjalan empat pekan, tetapi Arsenal dan Manchester City sudah tampak berada satu tingkat di atas para penantang. Kedua tim sama-sama mengoleksi 12 poin dan menjadi satu-satunya klub yang menyapu bersih empat laga. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan: apakah gelar juara hanya akan menjadi urusan dua tim saja?

Arsenal dan City adalah dua tim teratas dalam tiga dari empat musim terakhir, jadi dominasi mereka bukan hal yang asing. Harapan semula justru datang dari para penantang seperti Manchester United, Chelsea, Liverpool, dan Tottenham yang berganti manajer. Sayangnya, awal musim keempat klub itu berkisar antara goyah hingga amburadul.

Arsenal dan Man City

Arsenal dan Man City Sudah Samai 12 Poin

Arsenal dan Manchester City adalah satu-satunya dua tim dengan 12 poin dari empat pertandingan. Mereka sudah unggul empat poin atas Hull City di posisi ketiga, tim yang meski tampil cemerlang di awal musim mungkin belum layak dianggap sebagai penantang gelar. Keunggulan itu bahkan mencapai lima poin atas tim-tim lainnya.

Keduanya juga merupakan dua tim teratas dalam kurun empat musim terakhir. Karena itu, posisi mereka di puncak klasemen seolah mengulang pola yang sudah akrab, bukan kejutan sesaat. Dengan jarak poin yang sudah mulai terbuka, tekanan kini berpindah kepada para penantang untuk segera mengejar.

Bagaimana Arsenal dan City Menjauh Sendiri

Arsenal datang sebagai juara bertahan sekaligus favorit sejak pramusim. Di bawah Mikel Arteta, mereka mengakhiri penantian gelar selama 22 tahun pada musim lalu, meski gaya bermainnya sering dinilai mengandalkan daya tahan dan pertarungan fisik. Mereka membuka musim dengan kemenangan mengesankan 3-0 atas Manchester City di Community Shield.

Sejak itu Arsenal terus meraih kemenangan atas Coventry, Aston Villa, Chelsea, dan Sunderland, plus Napoli di Liga Champions. Termasuk musim lalu, mereka kini mencatat sembilan kemenangan beruntun di liga. Terakhir kali mereka kalah dalam waktu 90 menit di semua kompetisi adalah dari City pada 19 April.

Berbeda dari Arsenal, City tidak punya kesinambungan musim ini setelah Pep Guardiola pergi usai mempersembahkan enam gelar juara, termasuk Treble, dalam 10 tahun. Enzo Maresca, yang pernah menjadi asistennya, mengambil alih dan membawa City menang empat kali dari empat laga liga setelah kekalahan dari Arsenal. Mereka mengalahkan Bournemouth, Crystal Palace, dan Coventry, plus Porto di Liga Champions, sebelum menang kontroversial 1-0 di markas Manchester United pada Minggu.

Dalam laga itu, Erling Haaland mencetak satu-satunya gol. Namun badan perwasitan Premier League kemudian mengakui terjadi kesalahan karena gol tersebut seharusnya dianulir karena offside. Kemenangan itu tetap tercatat sebagai modal City menjaga rekor sempurna mereka.

Dominasi Mutlak? Angka Sebenarnya Berbicara Lain

Meski sama-sama menyapu bersih empat laga, angka mendasar di balik performa Arsenal dan Manchester City ternyata tidak menunjukkan dominasi penuh. Brighton dengan 13 gol dan Chelsea dengan 10 gol bahkan mencetak lebih banyak daripada delapan gol yang dikemas kedua tim puncak tersebut. Artinya, kemenangan mereka lebih ditentukan oleh efektivitas dan pertahanan ketimbang banjir gol.

Dalam hal jumlah tembakan, Arsenal dan City hanya menempati peringkat ke-10 dan ke-11 di liga. Untuk sentuhan di kotak penalti lawan, keduanya masing-masing berada di urutan keenam dan kelima. Peringkat-peringkat itu memperlihatkan bahwa secara statistik menyerang, kedua tim belum benar-benar mendikte permainan.

Yang justru menjadi kekuatan utama mereka adalah lini belakang. Arsenal baru kebobolan sekali dan City dua kali, menjadikan catatan keduanya sebagai dua yang terbaik di Premier League. Dengan pertahanan sekokoh itu, kesempurnaan angka poin mereka jadi lebih mudah dijelaskan.

Klub Besar Lain Tertatih di Awal Musim

Tiga favorit berikutnya di sebagian besar bandar taruhan berurutan adalah Chelsea, Liverpool, dan Manchester United, dengan Tottenham agak tertinggal. Chelsea dan Liverpool sama-sama memecat manajer mereka dan mendatangkan Xabi Alonso serta Andoni Iraola pada musim panas. United dan Spurs mengganti manajer lebih awal pada 2026, dengan Michael Carrick dan Roberto de Zerbi menjalani pramusim pertama mereka.

Musim lalu, Chelsea finis ke-10, Liverpool sebagai juara bertahan finis kelima, Spurs ke-17, sementara United menutup musim di posisi ketiga setelah bangkit di bawah Carrick. Jadi bagi keempatnya, harapan untuk musim yang lebih baik sebenarnya sangat tinggi. Kenyataannya, Chelsea kini di posisi kelima dengan baru sekali kalah dan sudah mencetak 10 gol, tetapi kebobolan sembilan, catatan terburuk keempat di liga.

Lebih jauh, Chelsea kebobolan dua gol atau lebih di masing-masing dari empat laga Premier League pertama mereka. Itu pertama kali terjadi sejak 2015-16. Liverpool turun ke peringkat tujuh dan belum terkalahkan, tetapi tiga dari empat laganya berakhir imbang, dan ini hanya ketiga kalinya dalam 63 musim terakhir mereka gagal memenangi salah satu dari dua laga kandang pertama di liga.

United berada di posisi ke-13 dengan empat poin, menyamai awal terburuk mereka di Premier League sejak 1992-93 dan setara dengan musim lalu. Mereka melepaskan tembakan lebih banyak dari tim mana pun (84) dan paling sedikit kedua dalam hal tembakan yang diterima (41). Meski begitu, jumlah gol yang mereka kemas sama dengan yang mereka kebobolan, yaitu tujuh.

Spurs sebenarnya tidak akan menganggap diri mereka penantang gelar setelah dua finis di posisi ke-17, tetapi mereka berharap awal yang lebih baik. Nyatanya mereka kini berada di posisi ke-17. Lebih buruk lagi, ini pertama kali dalam sejarah klub mereka gagal mencetak gol di empat laga liga pertama.

Pelajaran Sejarah untuk Perebutan Gelar Premier League

Sejarah menunjukkan keunggulan awal tidak selalu berujung pada gelar juara. Sebelum musim ini, ada 80 tim di kasta teratas Inggris yang berhasil memenangi empat pertandingan liga pertama mereka. Dari jumlah tersebut, hanya 24 yang akhirnya menutup musim sebagai juara, membuktikan dominasi awal tidak otomatis berarti sebuah tim mampu menjaga laju hingga akhir.

Khusus di era Premier League, sembilan dari 28 tim yang menang empat kali beruntun di awal musim akhirnya mengangkat trofi, paling anyar Manchester City pada 2023-24. Hanya ada enam musim sebelumnya di Premier League ketika dua tim atau lebih sama-sama menyapu bersih empat laga pertama mereka. Fakta itu menunjukkan situasi yang dihadapi sekarang tergolong langka.

Namun ada kabar buruk bagi para pengejar. Hanya dua klub yang pernah menjadi juara Premier League setelah tertinggal lima poin atau lebih usai empat pertandingan. Manchester United melakukannya lima kali pada era Sir Alex Ferguson (1992-93, 1996-97, 1998-99, 2007-08, dan 2008-09), sementara Manchester City asuhan Pep Guardiola mencapainya pada 2020-21.

Empat pekan memang terlalu cepat untuk memastikan siapa yang masuk dan keluar dari perebutan gelar Premier League. Namun melihat Arsenal dan City yang sama-sama sempurna sementara para penantang utama masih tertatih-tatih, wajar bila publik bertanya-tanya apakah ini akan menjadi duel dua tim sepanjang musim. Pertanyaan itu sampai sekarang masih terbuka lebar.

Meski begitu, angka di balik performa kedua tim puncak menunjukkan mereka belum sepenuhnya superior, dan sejarah menegaskan keunggulan awal sering menguap di tengah jalan. Yang jelas, para pengejar seperti Chelsea, Liverpool, United, dan Spurs harus segera bangkit bila tidak ingin persaingan gelar berubah menjadi pertarungan tertutup dua klub saja. Jika tidak, perebutan gelar Premier League musim ini bisa terasa selesai jauh sebelum pekan terakhir.