Bristol City Women tengah bersiap membuktikan bahwa klub sepak bola wanita bisa berdiri mandiri tanpa bergantung pada klub pria. Klub yang bermain di WSL2, kasta kedua Liga Super Wanita Inggris, ini memasuki era baru bersama CEO anyar, Hannah Buckley. Buckley optimistis klubnya siap mempercepat pertumbuhan dan meraih kesuksesan di musim mendatang.
Optimisme itu muncul setelah Bristol City Women diambil alih grup investasi Mercury13 pada tahun lalu. Sejak saat itu, klub resmi berpisah dari Bristol Sport, kelompok yang sebelumnya menaungi tim pria Bristol City serta klub rugby dan basket di kota tersebut. Keputusan ini menjadikan Bristol City Women klub wanita yang sepenuhnya independen, sebuah langkah yang diyakini sebagai fondasi penting bagi masa depan tim.

Transformasi Besar-besaran di Bawah Mercury13
Buckley resmi menjabat sebagai CEO pada Mei lalu dan mulai bekerja pada Juni. Ia menuturkan bahwa musim panas ini menjadi periode paling sibuk dalam sejarah klub karena berbagai perubahan besar tengah berjalan. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah jumlah staf yang bertambah dua kali lipat dibandingkan musim sebelumnya.
Menurut Buckley, klub harus menyiapkan semua layanan pendukung yang sebelumnya ditangani Bristol Sport. “Jumlah staf kami bertambah dua kali lipat. Kami harus menyiapkan semua layanan di belakang layar yang sebelumnya dijalankan Bristol Sport,” ujarnya dalam wawancara pertamanya sejak menjabat. Klub juga telah melakukan perbaikan di fasilitas latihan, termasuk meningkatkan kualitas lapangan latihan.
Buckley menyebut fase ini sebagai periode keuntungan marginal, yaitu tahap meninjau ulang seluruh aspek operasional klub. “Kami sedang dalam fase keuntungan marginal, meninjau apa yang harus kami lakukan untuk mempercepat pertumbuhan dan kesuksesan kami,” katanya. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia sepak bola, termasuk delapan tahun di WSL, Buckley menilai proyek ini sebagai peluang langka untuk membangun klub wanita dari nol.
Hannah Buckley, Sosok di Balik Proyek Klub Mandiri
Sebelum menjadi CEO, Buckley sudah berkarier panjang di industri sepak bola. Ia pernah menjabat sebagai manajer fasilitas regional serta kepala infrastruktur, keselamatan, dan keberlanjutan. Ia juga tercatat sebagai anggota dewan di Somerset County Cricket Club.
Motivasi Buckley bekerja di klub wanita juga bersifat personal. Saat berusia 11 tahun, ia dilarang bermain sepak bola di sekolah karena anak perempuan tidak diperbolehkan melakukannya. Pengalaman itu membuatnya bertekad membuka peluang bermain bagi anak-anak perempuan di kawasan barat daya Inggris.
“Ini peluang sekali seumur hidup. Ini benar-benar proyek membangun dari nol,” ujar Buckley. Wilayah barat daya Inggris memiliki area yang luas untuk menjaring talenta muda. Karena itu, ia menyebut keputusan melamar posisi ini sebagai keputusan yang sangat mudah dan sudah sepantasnya diambil.
Visi Klub Wanita Independen tanpa Naungan Klub Pria
Mercury13 bukanlah investor biasa. Grup ini didukung sejumlah nama besar, termasuk mantan gelandang Manchester United, Juan Mata. Selain Bristol City Women, Mercury13 juga memiliki FC Como Women di Italia dan FC Badalona Women di Spanyol, yang semuanya adalah klub khusus wanita.
Model klub independen inilah yang membuat Buckley tertarik mengambil peran sebagai CEO. Menurutnya, klub wanita yang berdiri sendiri tidak membawa risiko yang kerap membayangi tim wanita yang terikat dengan klub pria, seperti ancaman degradasi atau pergantian kepemilikan klub pria. “Klub independen tidak membawa sebagian risiko yang berpotensi Anda lihat ketika klub pria terdegradasi atau mengalami pergantian kepemilikan. Jadi, sifat independen klub ini adalah peluang nyata bagi saya,” jelasnya.
Keuntungan lain dari berada dalam grup multi-klub yang khusus menangani sepak bola wanita adalah terbukanya peluang riset dan kolaborasi lintas kompetisi. “Yang sangat menarik bagi saya adalah peluang riset, peluang kolaborasi lintas kompetisi yang berbeda, dan membuktikan bahwa klub wanita bisa berjalan mandiri sebagai entitas yang berdiri sendiri,” tambah Buckley. Ia juga pernah memimpin penyusunan pedoman desain WSL untuk pembangunan atau peningkatan stadion khusus tim wanita, sehingga ia memahami betul apa yang dibutuhkan klub wanita untuk berkembang.
Perombakan Staf dan Skuad Menyambut Musim Baru
Pelatih kepala Charlotte Healy bergabung pada Juni 2025 setelah menukangi sejumlah klub besar seperti Manchester United, Manchester City, Liverpool, Chesterfield, dan Derby. Healy mengaku merasakan perbedaan besar di Bristol City Women dibandingkan klub-klub sebelumnya. “Klub ini benar-benar terasa peduli pada tim wanitanya,” katanya.
Saat Healy tiba, staf klub hanya berjumlah tujuh atau delapan orang. Kini, posisi-posisi penting mulai terisi, mulai dari manajer kesejahteraan performa, kepala layanan performa, direktur komersial, kepala keuangan, manajer pemasaran penuh waktu, hingga sekretaris klub. “Kami membawa manajer kesejahteraan performa yang menurut saya sangat penting, membantu para pemain, karena menjadi pesepak bola profesional itu tidak mudah,” ujar Healy.
Healy juga menyoroti pentingnya staf yang memahami standar WSL. “Kami boleh bicara soal siap WSL, tetapi jika staf kami tidak tahu seperti apa kesiapan itu, bagaimana kami akan sampai di sana?” katanya. Untuk itu, klub mendatangkan kepala layanan performa yang berpengalaman di WSL pada Januari lalu.
Rekrutan Anyar di Lini Pemain
Klub juga aktif mendatangkan pemain baru, salah satunya bek Australia berusia 20 tahun, Alexia Apostolakis, yang direkrut dari Melbourne City pada Juli. Apostolakis mengaku pindah dari belahan dunia lain karena melihat ambisi sang pelatih untuk membawa klub promosi. “Salah satu alasannya adalah ambisi Charlotte dan staf untuk promosi,” ujarnya.
Penyerang Finlandia berusia 21 tahun, Lotta Lindström, juga bergabung dari London City Lionesses. Lindström memiliki pengalaman memenangkan divisi ini dua musim berturut-turut, yaitu bersama London City pada 2023-24 dan Birmingham City saat dipinjamkan musim lalu. “Saya harap saya bisa membawa mentalitas juara dan melakukan hal-hal kecil dengan benar, hal-hal kecil yang membuat perbedaan antara sekadar bagus dan menjadi yang terbaik,” katanya.
Healy menilai rekrutan musim panas ini berhasil menambah kedalaman skuad. “Kami merasa butuh kedalaman skuad yang lebih baik, dan saya rasa kami membuat beberapa rekrutan yang sangat bagus,” ujarnya. Ia juga menyebut Apostolakis sebagai salah satu pemain muda terbaik di Australia.
Target Promosi dan Tantangan di WSL2
Musim lalu, Bristol City Women finis di peringkat keempat WSL2 dengan catatan sebagai tim paling produktif di liga. Namun, musim ini sistem promosi berubah: hanya juara yang otomatis naik ke WSL. Peringkat kedua dan ketiga harus menjalani play-off melawan tim peringkat kedua terbawah WSL.
Healy tidak ragu menyebut target klub musim ini adalah promosi ke WSL. “Kami ingin klub ini berada di WSL. Kami memahami tantangan yang menyertainya, setiap tim ingin berada di WSL,” tegasnya. Ia menilai konsistensi menjadi kunci, terutama dalam bertahan, karena musim lalu timnya mencetak gol terbanyak tetapi justru finis di posisi keempat.
“Evolusi terbesar kami harus terjadi tanpa bola dan memastikan kami kebobolan lebih sedikit gol. Jika kami bisa melakukan itu, kami akan berada di papan atas,” tambah Healy. Dengan perbaikan lini pertahanan, ia yakin Bristol City Women bisa mengambil langkah berikutnya menuju WSL.
Buckley sendiri berbicara lebih hati-hati soal target musim ini. Menurutnya, WSL2 adalah liga yang paling sulit untuk ditinggalkan karena margin kesalahannya sangat tipis. “Anda hanya perlu tergelincir satu atau dua kali dan peluang itu hilang. Anda bisa melihat betapa ketatnya margin musim lalu,” ujarnya.
Meski begitu, Buckley menargetkan finis di tiga besar musim ini. “Ada begitu banyak aspek menuju kesuksesan, membangun budaya yang tepat adalah hal terpenting, memprofesionalkan lingkungan kami, dan menyiapkan diri untuk sukses. Saya berharap kami mencapai tiga besar; itu akan menjadi hasil yang fantastis,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa klub ini secara teknis baru berusia sembilan bulan sebagai sebuah badan usaha.
Ujian awal Bristol City Women sudah menanti di depan mata. Mereka akan membuka musim dengan laga tandang melawan Sunderland, klub lain yang juga diambil alih grup kepemilikan khusus wanita bernama Bay Collective. Setelah itu, mereka menjamu Newcastle United yang sedang berburu promosi di kandang sendiri, Ashton Gate.
Buckley menyebut dua laga pembuka itu sebagai pemeriksaan barometer yang baik untuk mengukur kesiapan tim. “Tanyai saya lagi saat Natal!” katanya menutup perbincangan. Hasil dari dua laga ini setidaknya bisa memberi gambaran awal tentang sejauh mana perkembangan klub dalam beberapa bulan terakhir.
Masa Depan Bristol City Women sebagai Studi Kasus
Perjalanan Bristol City Women musim ini akan menjadi studi kasus menarik bagi sepak bola wanita Inggris. Dengan dukungan grup investasi yang khusus menangani klub wanita, mereka ingin membuktikan bahwa tim wanita tidak harus selalu berada di bawah bayang-bayang klub pria. Jika model ini berhasil, klub-klub wanita lain di Eropa bisa menempuh jalur serupa.
Namun, tantangan tetap ada, mulai dari persaingan ketat di WSL2 hingga kesiapan infrastruktur dan finansial klub yang masih terbilang muda. Terlepas dari posisi akhir Bristol City Women di klasemen, musim ini akan menjadi pembuktian apakah klub wanita benar-benar bisa terbang sendiri. Semua mata kini tertuju pada Ashton Gate untuk menunggu jawabannya.