Siapa DR Congo, Lawan Inggris di Babak 32 Besar?
DR Congo menjadi salah satu kejutan di Piala Dunia 2026. Tim asal Afrika Tengah ini berhasil melaju ke babak 32 besar untuk pertama kalinya sejak debut mereka 52 tahun lalu. Kini, mereka akan berhadapan dengan Inggris dalam laga yang dinanti banyak penggemar sepak bola.
Pelatih asal Prancis, Sebastien Desabre, telah mengubah total tim yang sempat berada dalam krisis saat ia mengambil alih hampir empat tahun lalu. Hasilnya, DR Congo kini tampil disiplin, solid, dan penuh taktik. Lantas, apa saja yang perlu diketahui tentang tim lawan Inggris ini? Simak ulasan lengkapnya di bawah.

Kekuatan DR Congo: Pertahanan Kokoh dan Serangan Balik Mematikan
Soliditas Pertahanan yang Jarang Bobol
Sejak dilatih Desabre, DR Congo mencatatkan 29 cleansheet dalam 57 pertandingan. Ketika diperkuat pemain yang bermain di Eropa, mereka hanya pernah kalah dengan selisih satu gol. Ini menunjukkan betapa solidnya lini belakang mereka.
Serangan Balik Cepat dengan Duet Bakambu-Wissa
Penyerang seperti Cedric Bakambu dan Yoane Wissa menjadi andalan untuk menusuk pertahanan lawan. Kecepatan dan naluri mencetak gol mereka menjadi senjata utama dalam serangan balik yang cepat dan mematikan.
Mental Baja yang Teruji
Ketahanan mental DR Congo terbentuk selama kualifikasi yang panjang, termasuk tiga laga play-off. Tim ini tidak mudah menyerah dan mampu bangkit dari tekanan.
Kelemahan DR Congo: Kualitas dan Kondisi Fisik Jadi Masalah
Meski tangguh, DR Congo jarang menghadapi tim peringkat 20 besar dunia dalam beberapa tahun terakhir. Catatan mereka melawan Senegal dan Maroko, yang masuk dalam jajaran elite Afrika, masih buruk.
Selain itu, sebagian besar pemain reguler starter minim menit bermain di klub masing-masing pada musim 2025-2026. Kurangnya jam terbang dan kondisi fisik menjadi kekhawatiran utama bagi Desabre.
Pemain Kunci DR Congo yang Harus Diwaspadai Inggris
Chancel Mbemba – Kapten dan Jenderal Pertahanan
Bek tengah berusia 31 tahun ini adalah pemain dengan caps terbanyak di skuad DR Congo. Meski sempat menjadi pemain pinggiran di klub Prancis, Mbemba tetap menjadi pilar penting tim nasional.
Noah Sadiki – Dinamo Muda dari Sunderland
Gelandang kelahiran Belgia ini baru debut pada September 2024, namun langsung membawa energi, atletis, dan kemampuan membawa bola yang luar biasa. Sunderland merekrutnya seharga £15 juta dan ia menjadi salah satu pemain paling bersinar.
Yoane Wissa – Pencetak Gol Tajam meski Cedera
Wissa baru pulih dari cedera lutut serius setelah pindah ke Newcastle dengan nilai transfer mencapai £55 juta. Meski hanya delapan kali starter, ia menjadi pencetak gol terbanyak Afrika di fase grup Piala Dunia dengan tiga gol. Pelatih Desabre mengaku senang karena Wissa kembali ke performa terbaiknya.
Cedric Bakambu – Striker Tua yang Masih Ganas
Di usia 35 tahun, Bakambu tetap menjadi salah satu pemain paling efektif. Ia mencetak empat gol di kualifikasi Piala Dunia dan nyaris menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa negara.
Pelatih DR Congo: Sebastien Desabre, Arsitek Kebangkitan
Ini adalah penugasan ke-11 bagi Desabre di Afrika. Pelatih berusia 49 tahun ini sukses membawa DR Congo lolos ke Piala Afrika berturut-turut, mencapai semifinal pada 2023, dan kini membawa mereka ke Piala Dunia. Sebelumnya, ia juga sukses bersama Uganda.
Perjalanan DR Congo ke Babak 32 Besar
DR Congo mengawali turnamen dengan hasil imbang 1-1 melawan Portugal yang dijagokan. Kemudian mereka kalah tipis 1-0 dari Kolombia, namun bangkit dengan kemenangan 3-1 atas Uzbekistan. Hasil itu cukup untuk melaju sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Fakta Unik DR Congo: Suporter Patung dan Sejarah Kelam
Suporter fanatik Michel Kuka Mboladinga menjadi viral di Piala Afrika karena gaya patriotiknya. Ia akan menjadi bagian dari delegasi resmi DR Congo di Piala Dunia atas permintaan para pemain. Selama pertandingan, ia berdiri diam bagaikan patung Patrice Lumumba, pahlawan revolusi Kongo, dengan satu tangan terangkat.
Ada juga pepatah Kongo: “sedikit demi sedikit, pisang tumbuh” yang melambangkan kesabaran. Namun, selama 52 tahun absen dari Piala Dunia—terpanjang keempat dalam sejarah—kesabaran itu nyaris habis. Debut mereka pada 1974 sebagai Zaire berakhir memalukan: kalah 0-9 dari Yugoslavia dan tiga kekalahan tanpa gol. Momen paling terkenal adalah saat bek Mwepu Ilunga keluar dari tembok pagar betis untuk menendang bola saat Brasil bersiap mengeksekusi tendangan bebas. Aksi itu ternyata adalah protes politik karena pemain tidak dibayar, dan presiden Mobutu mengancam akan mengasingkan mereka jika kalah lebih dari tiga gol. Sejak itu, konflik, korupsi, dan tata kelola sepak bola yang buruk membuat DR Congo terpinggirkan.
Kini, Desabre membawa talenta baru dari diaspora Kongo—hanya enam pemain skuad Piala Dunia yang lahir di Afrika—dan hasil kesabaran tanpa henti mulai terlihat.
Sejarah DR Congo di Piala Dunia Sebelumnya
DR Congo hanya sekali tampil di Piala Dunia, yaitu pada 1974 saat masih bernama Zaire. Mereka kalah di tiga pertandingan grup tanpa mencetak satu gol pun, termasuk kekalahan 9-0 dari Yugoslavia.
Kesimpulan: Lawan Tangguh yang Tak Boleh Diremehkan
DR Congo bukan lagi tim underdog yang mudah dikalahkan. Dengan pertahanan kokoh, serangan balik cepat, dan mentalitas pantang menyerah, mereka siap memberikan perlawanan sengit kepada Inggris. Meski memiliki kelemahan di sisi kualitas pemain dan kondisi fisik, kebangkitan mereka di Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa tim ini layak diperhitungkan.